“Jika saya mencoba namun gagal memenuhi janji kampanye saya, saya akan mengucapkan selamat tinggal pada pekerjaan politik dan tidak melanjutkan. Tidak ada gunanya menyia-nyiakan hidup kita dan tidak dapat melayani orang-orang yang kita sayangi,” kata Pezeshkian dalam pesan video kepada para pemilih, sebagaimana dilansir Reuters.
Pezeshkian juga mendapat dukungan dari kubu reformis yang dipimpin oleh mantan Presiden Mohammad Khatami, yang selama bertahun-tahun terisolasi secara politik.
Pandangan Pezeshkian berbeda dengan pandangan Raisi, anak didik Khamenei yang memperketat penegakan hukum yang membatasi pakaian perempuan dan mengambil sikap keras dalam negosiasi dengan negara-negara besar yang kini hampir mati untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir.
Pada 2018, Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu Donald Trump membatalkan perjanjian tersebut dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. Tindakannya mendorong Teheran untuk semakin melanggar batas-batas nuklir perjanjian tersebut.
Pezeshkian telah berjanji untuk menghidupkan kembali perekonomian yang lesu, yang dilanda salah urus, korupsi negara, dan sanksi AS.