Moeffreni Moe'min Anak Betawi yang Jaga Keselataman Bung Karno dan Hatta dalam Rapat Ikada

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis
Minggu 04 Agustus 2024 07:00 WIB
Moeffreni Moe’min (Foto: Wikipedia)
Share :

Sebagaimana para prajurit dan perwira PETA lainnya, Moeffreni ikut meleburkan diri di Badan Keamanan Rakyat (BKR). Embrio Tentara Keamanan Rakyat (TKR, kini TNI). Kariernya yang cukup gemilang membuat Moeffreni ditunjuk oleh Ketua BKR Pusat Kasman Singodimedjo, sebagai Ketua BKR Jakarta Raya.

Ya, Moeffreni sudah dipercaya jadi “panglima” BKR Jakarta yang meliputi Jatinegara, Pasar Senen, Mangga Besar, Penjaringan, dan Tanjung Priok di usia sekitar 24-25 tahun. Reputasinya juga membawa kepercayaan Presiden Ir Soekarno untuk meminta Moeffreni melatih Barisan Pelopor.

Memimpin BKR Jakarta, Moeffreni juga membagi-bagi kesatuan-kesatuannya berdasarkan sektor, seperti Jakarta Pusat (dipimpin Sadikin dan Soedarsono, Jakarta Utara (Martadinata dan M Hasibuan), Jakarta Selatan, Jakarta Timur (Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta) dan Jakarta Barat. Tidak ketinggalan dibentuk satuan-satuan kecil di tiap kewedanan.

Urusan persenjataan, lazimnya di daerah-daerah lain, Moeffreni dan pasukannya pun acap melakukan pelucutan. Salah satunya pelucutan senjata serdadu Jepang di tangsi Desa Cilandak, Kebayoran Baru.

“Bukan kita mau membunuh orang, tapi untuk mempertahankan (Republik Indonesia) perlu senjata. Kalau mereka (serdadu Jepang) baik-baik, senjata itu kita ambil baik-baik. Kalau mereka tidak baik, terpaksa kita rampas. Itu saya kira lumrah,” cetus Moeffreni di buku ‘Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi’.

Moeffreni juga bertanggung jawab terhadap pengamanan Bung Karno dan Bung (Mohammad) Hatta kala menyambangi lautan manusia di rapat raksasa Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas).

Skema keamanannya dikoordinasikan Moeffreni sebagai Ketua BKR Jakarta dengan para Pemuda Menteng 31, Prapatan 10, kepolisian, Pemuda Kereta Api, Pemuda Pos dan Telekomunikasi, Barisan Pelopor, Laskar Jakarta, Laskar Klender, Pemuda Sulawesi, serta pemerintah daerah.

Moeffreni kemudian turut membentuk dua peleton anggota penjemput Bung Karno dari Pejambon, sekaligus mengawal Bung Karno langsung menuju podium, hanya bermodalkan granat dan pistol. Ketika TKR dibentuk 5 Oktober 1945, nama Moeffreni juga kembali dipercaya jadi “panglima” TKR Jakarta Raya dengan menyandang pangkat letkol.

TKR di Jakarta kemudian dibentuk Resimen V yang sayangnya atas hasil kesepakatan pemerintah republik dengan sekutu, mulai 19 November 1945 Jakarta harus dijadikan kota diplomasi dengan garis demarkasi di Kali Cakung. Resimen V harus “hijrah” dengan memilih markas di Cikampek dengan wilayahnya yang tetap meliputi Jakarta, Bekasi, Karawang dan Cikampek.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya