Di sana, ungkap Yuli, suaminya dipekerjakan sebagai admin online scanning dengan waktu kerja 18 jam hingga 20 jam perhari. Mirisnya jika target yang telah ditentukan oleh perusahaan tidak tercapai, Robiin akan mendapatkan penyiksaan.
"Dalam satu hari, harus mencari 100 kontak. Suami saya pernah disetrum, karena targetnya belum selesai, dan harus bekerja hampir 24 jam. Suami saya juga pernah dipukul pakai balok. Kalau ngantuk akan dipukul pake pentungan satpam," ungkap dia.
Yuli menyampaikan, selama satu tahun bekerja suaminya belum pernah mendapat gaji, yang didapat justru ancaman. Jika peristiwa ini viral, maka suaminya itu akan dihabisi.
"Gaji sama sekali gak ada. Jadi apa yang dijanjikan saat perekrutan itu belum pernah terjadi. Selama satu tahun ini belum pernah terima. Justru yang didapat adalah ancaman, apabila viral mereka pasti akan habis. Akan disekap tiga hari gak dikasih makan. Kalaupun dikasih, makanan bekas orang. Pokoknya kondisinya sangat buruk," ujar dia
Di sisi lain, Yuli sudah berupaya berjuang untuk dapat membebaskan suaminya itu dengan melapor ke banyak pihak, baik ke Polda Jawa Barat, Kementerian Luar Negeri, dan Komnas HAM, namun juga belum ada tindakan evakuasi.
"Saya dan anak-anak ikut menjadi korban. Karena harus mengganti peran suami saya mencari nafkah. Saya pun harus mengadvokasi dan menyelamatkan suami saya supaya bisa segera mengevakuasi," pungkasnya.
(Awaludin)