Ada 10 alasan terbesar Gen Z dipecat berdasarkan studi yakni karena kurang motivasi dan inisiatif dalam bekerja (50%), kurang profesional (46%), kurang kemampuan organisasi (42%), kurang kemampuan komunikasi (39%), kurang bisa menanggapi feedback (dari atasan atau klien) (38%), kurang pengalaman kerja yang relevan (38%), kurang dalam memecahkan masalah (34%), kemampuan teknisnya tidak efisien (31%), tidak bisa berbaur dengan budaya perusahaan (31%) hingga kesulitan bekerja tim (30%).
"Melihat data tersebut, saya yakin Gen Z di Indonesia jauh lebih baik. Selama diberi kesempatan, Gen Z pasti mampu beradaptasi dengan karakter khas yang dimiliki mereka,” kata Verrell.
Legislator dari dapil Jawa Barat VII ini mengungkapkan, generasi Z dan milenial unggul dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi serta digitalisasi yang sangat cepat. Verrell menyebut, Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia yang seperti itu untuk membangun bangsa.
"Di era digital saat ini, Indonesia tentu membutuhkan generasi muda dalam memaksimalkan kreativitasnya. Saya percaya, generasi muda Indonesia termasuk Gen Z bisa diajak diskusi dan diarahkan agar menjadi lebih baik," jelasnya.
Riset NielsenIQ dan World Data Lab menyebutkan bahwa Gen Z dan generasi milenial saat ini menyumbang masing-masing 17,1 persen dan 22,5 persen dari total pengeluaran global pada 2024 senilai US$ 57,6 triliun atau setara Rp 872 kuadriliun. Meski demikian, jumlah pengeluaran Gen Z dan milenial itu masih kalah dari Gen X (kelahiran 1965-1980) yang menyumbang 23,5 persen dari nilai belanja global.