Sementara itu, Kepala BBWS Citarum, Mochammad Dian Alma’ruf, menjelaskan bahwa bencana banjir ini terjadi karena kapasitas Sungai Cikapundung Kolot yang sudah tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis.
“Debit air saat kejadian mencapai 415 kubik, sementara kapasitas sungai hanya 297 kubik. Selain itu, pertemuan dengan Sungai Cikapundung Kota menyebabkan backwater, yang memperparah tekanan dan menjebol tanggul,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan tanggul sepanjang dua kilometer sebenarnya telah diusulkan sejak 2020, tetapi belum rampung akibat keterbatasan anggaran.
Saat ini, pihaknya masih melakukan penanganan darurat dengan pemasangan geobox sebagai fondasi sebelum dilakukan perbaikan lebih lanjut.
“Kami akan usulkan kembali pembangunan tanggul sepanjang 2,1 km agar tidak terus terjadi banjir. Kami harap anggaran tahun depan memungkinkan proyek ini segera terealisasi,” ujarnya.
(Angkasa Yudhistira)