"Serangan terhadap pemimpin besar negara kita (Ayatollah Ali Khamenei) berarti perang skala penuh dengan bangsa Iran," tulis Pezeskhian di media sosial X, dikutip dari Al Jazeera.
Sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan merespons keras jika kembali diserang. Dalam kolom opininya di Wall Street Journal, Araghchi menegaskan Iran tidak akan ragu membalas dengan seluruh kemampuan militernya.
Rasa gentar Trump terhadap Iran bukan tanpa alasan. Merujuk perang Vietnam (1955–1975) dan invasi AS ke Afghanistan (2001–2021) adalah trauma laten bangsa Amerika. Di dua medan tersebut, serdadu AS babak belur; mundur membawa kekalahan.
Sementara secara geopolitik dan ekonomi, meningkatnya ketegangan AS–Iran berpotensi memberi dampak lanjutan terhadap stabilitas kawasan, harga energi global, serta sentimen pasar keuangan internasional.
Dari sudut militer dan keamanan kawasan, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayor Jenderal Mohammad Pakpour menggerakkan Trump. Seperti dikutip Al Mayadeen (surat kabar Ahlul Bait pro-Iran), pada Sabtu (24/1/2026) menyebut: