JAKARTA - Momen ramainya peziarah seharusnya menjadi ladang untuk bagi para pedagang kembang tabur yang biasa menggelar lapak di TPU. Namun, tidak untuk tahun ini, sejumlah pedagang kembang tabur di TPU Karet Bivak mengaku sepi pembeli dan mengalami penurunan pendapatan.
Anis (48), salah satu pedagang yang sudah menggelar lapak sejak Kamis lalu mengungkapkan bahwa keuntungan tetap didapat pada tahun ini. Namun angka penjualan justru cenderung stagnan bahkan menurun.
Hal ini dikarenakan jumlah peziarah makam yang tidak bisa diprediksi setiap harinya. Selain itu, jam ramai peziarah juga membuat para pedagang harus ekstra sabar menunggu momentum keramaian di pinggir area parkir pemakaman.
"Sama aja sih (kalau untung), kalau dia lagi ramai ya naik. Baru sekarang ini (mulai ada yang beli), entar ramai-ramai paling sore," ujar Anis kepada Okezone di lapaknya, Sabtu (14/2/2026).
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Mieska, salah satu penjual kembang yang telah berjualan sejak pembukaan tanggal 8 lalu. Ia merasakan betul bagaimana animo peziarah tahun ini tidak sehangat tahun-tahun sebelumnya.
"Ibu kan sudah 3 tahun ikutin adik kalau jualan, kalau 2 tahun yang lalu ramai-ramai. Kalau tahun ini rasanya agak sepi,” kata Meiska.
Namun bukan tanpa alasan, menurutnya, penurunan jumlah pembeli terjadi karena kondisi ekonomi masyarakat yang sedang tidak stabil. Sehingga berdampak langsung pada daya beli masyarakat yang akhirnya merembet pada daya beli di sektor informal seperti penjual kembang tabur di pemakaman.
"Memang lagi dampak dari keuangan negara ini agak merosot, jadi dampaknya juga sama pembeli. Penjual-penjual, pembelinya kurang. Iya, kurang ramai," ucap dia.
Padahal, harga kembang tabur yang dijualnya tidaklah mahal. Ia hanya menjual satu bungkus kembang tabur yang berisi mawar merah, mawar putih, dan irisan pandan ia hargai Rp10.000, sementara air mawar ia jual seharga Rp5.000 per botol.