Dalam surat edaran itu dijelaskan bahwa pengeras suara terdiri atas dua jenis, yakni pengeras suara dalam yang difungsikan untuk ruangan masjid atau musala, serta pengeras suara luar yang diarahkan ke luar ruangan. Volume pengeras suara diatur sesuai kebutuhan dengan batas maksimal 100 desibel.
Terkait tata cara penggunaan, sebelum azan Subuh pembacaan Al-Qur’an atau selawat/tarhim dapat menggunakan pengeras suara luar paling lama 10 menit. Untuk Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, penggunaan pengeras suara luar sebelum azan dibatasi paling lama 5 menit. Setelah azan dikumandangkan, rangkaian salat, zikir, doa, dan kajian menggunakan pengeras suara dalam.
Pada pelaksanaan salat Jumat, sebelum azan diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar paling lama 10 menit. Sementara itu, khutbah, salat, zikir, dan doa menggunakan pengeras suara dalam. Adapun azan tetap menggunakan pengeras suara luar.
Khusus kegiatan syiar Ramadan, pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah atau kajian Ramadan, serta tadarus Al-Qur’an menggunakan pengeras suara dalam. Takbir Idulfitri dan Iduladha dapat menggunakan pengeras suara luar hingga pukul 22.00 waktu setempat, selanjutnya menggunakan pengeras suara dalam. Salat Idulfitri dan Iduladha dapat menggunakan pengeras suara luar.
(Awaludin)