JAKARTA – Lebih dari 200 orang tewas setelah tanah longsor yang dipicu hujan lebat melanda tambang koltan Rubaya di bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC), menurut Kementerian Pertambangan negara tersebut.
Kementerian menyebutkan longsor terjadi pada Selasa (3/3/2026), dan sekitar 70 anak-anak termasuk di antara korban tewas.
Banyak korban luka dievakuasi ke fasilitas kesehatan di Kota Goma.
Seorang pejabat senior dari kelompok pemberontak AFC/M23, yang mengendalikan tambang tersebut, memberikan angka korban tewas yang jauh lebih rendah. Ia mengatakan kepada Reuters bahwa hanya lima atau enam orang yang tewas dalam kecelakaan itu.
Rubaya menghasilkan sekitar 15 persen koltan dunia, yang diolah menjadi tantalum — logam tahan panas yang banyak digunakan dalam telepon seluler, komputer, komponen kedirgantaraan, dan turbin gas.