Para kritikus menggambarkan rangkaian video tersebut—salah satunya menampilkan Superman dan cuplikan dari film "Braveheart," "Top Gun," "Iron Man," serta "Gladiator" yang disisipkan di antara penghancuran perangkat keras militer—sebagai "gamifikasi" perang yang tidak pantas, di mana anggota militer AS dan warga sipil Iran telah menjadi korban jiwa.
Saat Gedung Putih berjuang untuk merumuskan alasan yang jelas terkait perang yang dimulai dengan kampanye pengeboman AS-Israel pada 28 Februari—dengan Presiden Donald Trump dan beberapa anggota kabinet memberikan alasan yang berubah-ubah dan kontradiktif—beberapa mantan pejabat Republik dan pakar komunikasi menyebut video-video tersebut sebagai upaya pamer kekuatan militer Amerika yang tidak patut.
Sebaliknya, menurut mereka, Trump seharusnya menjelaskan dengan jelas kepada rakyat Iran dan publik AS mengapa Amerika memicu konflik Timur Tengah lainnya.
"Jika Anda ingin berkomunikasi, salah satu hal utama yang harus dilakukan adalah menjelaskan kepada rakyat Iran mengapa Anda membom negara mereka, bukan menunjukkan bagaimana kita meledakkan berbagai hal," kata James Glassman, pakar komunikasi yang menjabat sebagai menteri muda luar negeri untuk diplomasi publik dan urusan publik di bawah pemerintahan Republik mantan Presiden George W. Bush, melansir Reuters, Sabtu (7/3/2026).
"Ini tampaknya merupakan upaya untuk menjual perang setelah dimulai dengan membuatnya terlihat 'keren', agar terlihat seperti video gim."
Anna Kelly, juru bicara Gedung Putih, mengatakan kepada Reuters bahwa militer AS telah memenuhi atau melampaui targetnya dalam perang melawan Iran. "Gedung Putih akan terus memamerkan banyak contoh hancurnya rudal balistik Iran, fasilitas produksi, dan mimpi mereka untuk memiliki senjata nuklir secara real-time," ujar Kelly.
Perang yang Dipromosikan dengan Budaya Pop