Kota Pelabuhan Colombo mencerminkan dimensi keterlibatan China yang berbeda tetapi sama pentingnya. Proyek reklamasi dan real estat senilai USD 1,4 miliar ini didukung oleh China Communications Construction Company. Pada 2021, Sri Lanka mengesahkan undang-undang yang memberikan wewenang pengaturan yang luas kepada Komisi Kota Pelabuhan atas zona tersebut, termasuk konsesi pajak dan otonomi tata kelola keuangan. Para kritikus di Sri Lanka berpendapat bahwa kerangka kerja tersebut membatasi pengawasan parlemen dan menciptakan ruang ekonomi paralel dengan pengaruh investor asing yang besar. Pemerintah membela proyek tersebut sebagai hal penting untuk menarik modal dan mengubah Kolombo menjadi pusat keuangan. Yang jelas terlihat adalah bahwa modal China kini telah tertanam kuat dalam arsitektur perencanaan kota dan keuangan Sri Lanka.
Kontroversi seputar kapal penelitian China menggambarkan bagaimana keterikatan infrastruktur dalam pemikiran strategis Sri Lanka kini selalu beririsan dengan masalah keamanan. Yuan Wang 5, yang dioperasikan oleh jaringan pelacakan satelit China, memiliki kemampuan yang melampaui studi oseanografi sipil. Analis pertahanan sumber terbuka telah mencatat bahwa kapal-kapal tersebut dapat melacak peluncuran rudal dan mengumpulkan intelijen elektronik. India secara terbuka menyatakan kekhawatiran bahwa kehadiran kapal di Hambantota dapat memfasilitasi pengawasan garis pantai selatannya.
Sri Lanka bersikeras bahwa kapal tersebut tidak akan terlibat dalam aktivitas militer saat berada di perairannya. Meskipun demikian, episode ini mengungkap kerentanan Kolombo terhadap tekanan yang bersaing, terutama di bawah desakan China untuk menambatkan kapal tersebut. India adalah tetangga terbesar Sri Lanka dan mitra ekonomi yang penting. China adalah kreditor utama dan investor infrastruktur. Keputusan penambatan menjadi ujian sejauh mana Sri Lanka dapat menegaskan netralitasnya ketika pemulihan ekonominya sebagian bergantung pada kerja sama China dalam negosiasi restrukturisasi utang.
Besarnya porsi utang luar negeri Sri Lanka kepada China telah diperdebatkan, tetapi perkiraan umumnya menempatkannya antara 10 dan 20 persen dari total utang negara, menjadikan Beijing salah satu kreditor bilateral terbesar. Selama proses restrukturisasi setelah gagal bayar tahun 2022, Sri Lanka membutuhkan jaminan pembiayaan dari kreditor utama, termasuk China, untuk mengamankan program Dana Moneter Internasional (IMF). Urutan pemberian jaminan ini menempatkan Beijing pada posisi berpengaruh pada saat kerentanan yang akut.