Penyelidikan PBB: Penjaga Perdamaian Indonesia di Lebanon Tewas Akibat Ledakan Pinggir Jalan

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 01 April 2026 13:45 WIB
Ilustrasi. (Foto: UNIFIL)
Share :

JAKARTA – Ledakan pinggir jalan yang menghantam konvoi diduga menewaskan dua pasukan penjaga perdamaian Indonesia di Lebanon selatan, kata Kepala Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (31/3/2026), mengutip temuan awal dari penyelidikan.

Kedua pasukan penjaga perdamaian dari UNIFIL tewas pada Senin (30/3/2026) di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan, sementara dua tentara lainnya terluka. Seorang tentara Indonesia lainnya tewas pada Minggu (29/3/2026) malam hingga Senin pagi ketika sebuah proyektil meledak di dekat salah satu posisi kelompok tersebut.

“UNIFIL sedang melakukan penyelidikan untuk menentukan keadaan dari perkembangan yang tercela ini,” kata Jean-Pierre Lacroix, Kepala Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Lebanon, sebagaimana dilansir Reuters. Perang antara pasukan Hizbullah dengan Israel kembali pecah di Lebanon pada 2 Maret menyusul serangan terhadap Iran.

Militer Israel mengatakan pada Selasa bahwa tinjauan mereka terhadap insiden yang melibatkan pasukan UNIFIL pada Senin menyimpulkan bahwa pasukan Israel tidak menempatkan alat peledak di daerah tersebut dan tidak ada pasukan yang hadir di sana.

 

Mereka juga menyerukan kepada UNIFIL untuk menghindari kehadiran di zona pertempuran, di mana telah dikeluarkan peringatan evakuasi bagi warga sipil.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyalahkan kematian tiga pasukan penjaga perdamaian tersebut kepada Hizbullah. Ia menuduh kelompok itu meluncurkan roket dari desa-desa di dekat posisi PBB, “menempatkan pasukan penjaga perdamaian langsung di garis tembak.”

Hizbullah tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Ditanya tentang pernyataan Danon, Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan: “Kami mengundang mereka untuk membagikan bukti dengan tim investigasi kami.”

Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan dalam sebuah briefing bahwa “bom pinggir jalan, kemungkinan besar IED,” atau alat peledak improvisasi, adalah penyebab insiden di Bani Hayyan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras pembunuhan pasukan penjaga perdamaian tersebut, menyebut serangan semacam itu sebagai “pelanggaran berat hukum humaniter internasional … dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.”

“Akan ada pertanggungjawaban,” tambahnya dalam sebuah pernyataan.

 

Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Selasa mengutuk serangan tersebut “dengan sekeras-kerasnya,” menambahkan bahwa serangan itu mencerminkan memburuknya lingkungan keamanan di kawasan tersebut. Disebutkan bahwa operasi militer Israel yang sedang berlangsung telah menempatkan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon dalam risiko besar.

Sesuai keputusan Dewan Keamanan, UNIFIL akan menghentikan operasinya pada akhir tahun 2026 dan menarik diri pada 2027. Hingga Maret, UNIFIL memiliki 7.505 pasukan penjaga perdamaian dari 47 negara.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya