KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia mengumumkan kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) untuk sektor publik dan perusahaan terkait pemerintah (BUMN) yang berlaku mulai 15 April 2026. Kebijakan ini sebagai langkah proaktif untuk mengatasi krisis energi global.
Dalam pesan video, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pada Rabu (1/4/2026), keputusan tersebut, yang dicapai dalam rapat Kabinet, bertujuan mengurangi konsumsi bahan bakar dan memastikan keberlanjutan pasokan energi negara, yang telah terpengaruh oleh konflik di Asia Barat.
Ia mengatakan ketegangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah mengganggu rantai pasokan global, tetapi Malaysia sejauh ini berhasil tetap tangguh dengan mempertahankan harga bensin RON95 di RM1,99 per liter untuk sementara waktu.
"Oleh karena itu, meskipun situasinya sedikit mereda, bukan berarti kita bisa berpuas diri. Masyarakat mana pun, baik keluarga maupun bangsa, yang terlalu nyaman dan menganggap enteng masalah ini berisiko menghadapi tantangan yang lebih besar," katanya dalam video itu, melansir Bernama.
"Kita harus menerima kenyataan bahwa situasinya tidak seperti biasanya."
“Jika situasinya mengkhawatirkan, maka kita harus merespons dengan tepat dan berpegang pada rencana kita,” katanya dalam pesan video tersebut.
Anwar mengatakan, pemerintah sedang meredam dampak krisis energi global melalui Inisiatif Dukungan Rakyat, dengan alokasi tambahan sebesar RM4 miliar per bulan untuk menyerap kenaikan biaya minyak global dan memastikan masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga yang tiba-tiba.
Selain itu, untuk memastikan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, kuota subsidi bahan bakar Budi Madani 95 telah disesuaikan menjadi 200 liter per bulan mulai hari ini, bersamaan dengan pemberlakuan batasan harian pengisian bahan bakar diesel bersubsidi di Sabah, Sarawak, dan Labuan.
Perdana Menteri juga mengatakan, pemerintah sedang meningkatkan upaya diversifikasi sumber energi untuk menjaga pasokan energi negara.
“Kami sedang melakukan diversifikasi sumber impor minyak dan gas dari negara lain, seperti yang telah diumumkan sebelumnya. Ini juga didukung oleh kinerja yang kuat dari perusahaan minyak nasional kita, Petronas, dalam mengelola operasi secara efektif,” katanya.
(Erha Aprili Ramadhoni)