Baghaei mengatakan pada Senin bahwa Teheran tidak akan pernah menerima rencana 15 poin yang diajukan oleh AS bulan lalu. Ia menyatakan bahwa Teheran telah menyusun tuntutannya di tengah usulan baru-baru ini untuk mengakhiri perang, tetapi hanya akan mengungkapkannya ketika waktunya tepat.
“Beberapa hari yang lalu, mereka mengajukan usulan melalui perantara, dan rencana 15 poin AS tercermin melalui Pakistan dan beberapa negara sahabat lainnya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa “usulan tersebut sangat ambisius, tidak biasa, dan tidak logis.” Baghaei menegaskan bahwa Iran memiliki kerangka kerjanya sendiri:
“Berdasarkan kepentingan kami sendiri, berdasarkan pertimbangan kami sendiri, kami mengkodifikasi serangkaian tuntutan yang kami miliki dan tetap miliki,” ujarnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri itu juga menolak gagasan bahwa keterlibatan dengan mediator menandakan kelemahan.
Upaya diplomatik terbaru dari Pakistan ini terjadi di tengah meningkatnya permusuhan yang menimbulkan kekhawatiran akan gangguan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak global. Lebih dari 20 persen minyak dan gas dunia melewati jalur air ini, yang tetap berada di bawah blokade de facto Iran.