Sidang Parlemen dan Rencana Lima Tahun ke-15 menandakan bahwa strategi Asia Selatan China telah matang melampaui instrumen kasar berupa pinjaman pelabuhan. Strategi tersebut kini lebih halus, padat teknologi, dan jauh lebih sulit dibalik.
Pertanyaan bagi Dhaka, Kolombo, Kathmandu, dan Islamabad bukanlah apakah mereka ingin terlibat dengan China, karena angka perdagangan dan investasi membuat pemutusan hubungan tidak masuk akal. Pertanyaannya adalah apakah mereka membangun kapasitas kelembagaan untuk menetapkan syarat keterlibatan sebelum lima tahun ke depan mengunci generasi baru ketergantungan.
(Rahman Asmardika)