JAKARTA – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) mengonfirmasi telah kehilangan drone pengintai canggih MQ-4C Triton di Selat Hormuz. Drone tersebut menghilang secara tak terduga dari situs pelacakan penerbangan daring saat terbang di atas Teluk Persia pekan lalu, tetapi lokasi jatuhnya yang tepat masih belum jelas.
Laporan ringkasan kecelakaan terbaru dari Komando Keselamatan Angkatan Laut yang tersedia untuk umum, yang diterbitkan pada Rabu (15/4/2026), menyebutkan drone tersebut menghilang pada 9 April di lokasi yang dirahasiakan. Penyebab jatuhnya drone tersebut masih belum diketahui dan hanya dikategorikan sebagai kecelakaan Kelas A.
Kecelakaan Kelas A adalah definisi bagi kecelakaan yang menyebabkan kerugian lebih dari USD2 juta, mengakibatkan satu atau lebih individu meninggal atau cacat permanen, atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Klasifikasi insiden ini ke dalam kategori tersebut tidak mengherankan karena dokumen anggaran Angkatan Laut terakhir menetapkan harga satuan MQ-4C sedikit di atas USD238 juta atau setara Rp4,08 triliun menurut kurs saat ini.
Hingga 2025, US Navy memiliki total 20 drone jenis ini yang beroperasi, dengan rencana untuk mengakuisisi tujuh lagi.
MQ-4C secara luas diasumsikan jatuh minggu lalu, diyakini dalam penerbangan kembali ke pangkalan di Pangkalan Udara Angkatan Laut Sigonella di Italia setelah menyelesaikan misi pengawasan di atas Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Transponder drone juga telah menyiarkan kode 7700, yang merupakan deklarasi umum keadaan darurat dalam penerbangan, pada saat itu. Namun, kode tersebut, dengan sendirinya, tidak memberikan detail tentang sifat atau tingkat keparahan keadaan darurat tersebut. Ada juga laporan bahwa Triton awalnya mengeluarkan kode 7400, kode berbeda yang digunakan untuk menyatakan bahwa drone tersebut telah kehilangan koneksi dengan pengendali di darat.
Seperti yang telah disebutkan, lokasi jatuhnya drone tersebut tidak jelas. Terakhir kali terlacak, drone tersebut terbang di wilayah udara internasional di atas Teluk Persia menuju Iran, tetapi tidak ada bukti bahwa drone tersebut jatuh di Iran.
Tidak diketahui juga langkah-langkah apa yang telah diambil, atau masih berlangsung, untuk memulihkan MQ-4C yang jatuh tersebut. Setiap drone membawa radar multi-mode active electronically scanned array (AESA) yang canggih, kamera video elektro-optik dan inframerah di menara di bawah hidung, serta sistem pengukuran dukungan elektronik untuk mengumpulkan intelijen elektronik secara pasif.
Jika musuh dapat menemukan kembali sistem-sistem ini dalam keadaan utuh, ini berpotensi menjadi kerugian intelijen yang signifikan bagi AS. Meskipun tidak ada indikasi sama sekali bahwa MQ-4C jatuh karena tembakan musuh, penemuan puing-puingnya masih dapat bermanfaat untuk tujuan propaganda, terutama bagi Iran dalam konteks konflik terbaru.
Iran memang menembak jatuh drone RQ-4 Broad Area Maritime Surveillance-Demonstrator (BAMS-D) Angkatan Laut saat terbang di atas Teluk Oman pada 2019, dan segera memamerkan sisa-sisa pesawat tanpa awak tersebut. BAMS-D adalah pendahulu MQ-4C. Triton berasal dari desain inti RQ-4 Global Hawk, tetapi dioptimalkan untuk misi jangka panjang di atas perairan.
(Rahman Asmardika)