Keberanian itu berbuah hasil. Mereka berhasil panen, melunasi tanggungan, dan membuktikan kemampuan mereka sebagai petani.
Seiring waktu, kepercayaan warga pun tumbuh. Lahan-lahan tidur seluas 800 hingga 1.500 meter persegi mulai diberikan untuk mereka kelola. Hasil panen tak hanya menghidupi anggota komunitas, tetapi juga mendukung kegiatan sosial warga, seperti perayaan 17 Agustus hingga tahun baru.
Masuk Program MBG dan Jadi Kontrol Sosial
Kini, Petani Punk memasuki babak baru dengan terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pemasok bahan pangan.
Bagi Sibag dan komunitasnya, keterlibatan ini bukan sekadar peluang ekonomi. Mereka juga membawa misi sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap program tersebut.
"Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun karena kami ada di dalamnya," tegasnya.
Peran ganda ini menjadikan komunitas Petani Punk tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan lokal, tetapi juga ikut menjaga transparansi dan kualitas program publik.
Dari anak-anak yang dulu dipandang sebelah mata, mereka kini berdiri sebagai petani, penggerak komunitas, sekaligus penjaga integritas.
(Awaludin)