Nasib dan Perjuangan Buruh

Opini, Jurnalis
Jum'at 01 Mei 2026 20:45 WIB
Agus Taufiq (Dok Pribadi)
Share :

Ditulis oleh Agus Taufiq, politikus muda dan inisiator @KebijakanKita

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buruh didefinisikan singkat sebagai 'orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah'. Penjabaran definisi yang tampak apa adanya ini nyatanya menyembunyikan realitas yang jauh lebih getir.

Jika kita menengok ke belakang, Hari Buruh atau May Day yang kita rayakan hari ini bukanlah hadiah dari penguasa yang bermurah hati. Tragedi berdarah di Haymarket, Chicago, pada tahun 1886, membuktikan peringatan ini berlandaskan darah dan air mata kaum pekerja yang kala itu menuntut hak dasar atas delapan jam kerja. Lebih dari seabad berlalu, muncul pertanyaan: Sejauh mana nasib perjuangan para buruh hari ini benar-benar ditentukan? Apakah perjuangan itu perlahan luntur di tengah realita politik dan ekonomi yang semakin tidak karuan?

Pertanyaan ini menjadi penting. Sebab, ada kecenderungan kita hanya terus-menerus menawarkan solusi parsial terhadap persoalan sistemik yang menjerat buruh dari hulu ke hilir.

Alienasi terhadap Buruh

Coba lihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Setiap denyut kehidupan kota ini senantiasa bergerak karena keringat para buruh. Ironisnya, mereka sering kali menjadi orang asing di tempat yang sebenarnya mereka bangun sendiri. Nasib mereka justru terlempar jauh ke pinggiran, terjebak dengan upah yang seringkali hanya cukup untuk menyambung hidup hingga esok pagi.

Di saat biaya hidup melambung tinggi, harga kebutuhan pokok mencekik, dan bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK) siap menerkam kapan saja, buruh dipaksa untuk terus "berterima kasih" atas pekerjaan yang tersisa. Harapan untuk mendapatkan kepastian jaminan sosial dan upah yang layak seringkali menguap begitu saja. Namun, untuk memahami mengapa ini terus terjadi, kita tidak bisa hanya melihat ke dalam negeri.

Terperangkap dalam Rantai Pasok Global

Dalam lanskap ekonomi kontemporer, buruh Indonesia tidak berdiri sendiri. Penderitaan mereka terhubung langsung dalam apa yang disebut sebagai global production networks, yakni rantai pasok global yang menghubungkan bahan baku, tenaga kerja, modal, hingga pasar dalam satu sistem lintas negara.

Ambil contoh sepasang sepatu yang diproduksi di Surabaya. Sepatu itu bisa saja dirancang di Eropa, menggunakan bahan dari Asia Timur, dan dijual di Amerika Serikat dengan harga selangit. Dalam sistem seperti ini, posisi buruh Indonesia sering kali berada di dasar piramida. Sekadar menjadi mesin produksi dengan label "tenaga kerja murah".

Logika ini selaras dengan world-systems theory dari Immanuel Wallerstein. Dunia terbagi ke dalam pusat, semi-periferi, dan periferi (pinggiran). Harus diakui, jika Indonesia masih terjebak di posisi pinggiran. Kita sekadar menjadi pemasok keringat dan bahan mentah, bukan pengendali nilai tambah (desain, teknologi, atau merek) yang meraup keuntungan terbesar.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya