Korut Adopsi Kebijakan Baru: Otomatis Luncurkan Nuklir Jika Kim Jong Un Dibunuh

Rahman Asmardika, Jurnalis
Minggu 10 Mei 2026 18:34 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Share :

JAKARTA - Korea Utara dilaporkan telah merevisi kebijakan nuklirnya untuk memerintahkan serangan nuklir otomatis jika Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un dibunuh atau dilumpuhkan dalam serangan pihak asing. Perubahan ini diajukan menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap kepemimpinan Iran pada awal perang di akhir Februari 2026.

Menurut laporan The Telegraph, revisi konstitusi tersebut diadopsi selama sesi pertama Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara ke-15 yang diadakan di Pyongyang pada 22 Maret. Rincian perubahan tersebut dibagikan kepada pejabat senior Korea Selatan pada Kamis (7/5/2026) oleh Badan Intelijen Nasional (NIS).

Mekanisme Pembalasan Otomatis

Berdasarkan undang-undang yang direvisi, Kim Jong Un tetap memegang kendali penuh atas persenjataan nuklir negara tersebut. Namun, ketentuan baru sekarang secara resmi mendefinisikan bagaimana pembalasan akan dilakukan jika kepemimpinan menjadi sasaran utama.

“Jika sistem komando dan kendali atas pasukan nuklir negara terancam oleh serangan pasukan musuh... serangan nuklir akan diluncurkan secara otomatis dan segera,” demikian bunyi Pasal 3 yang diperbarui dari undang-undang kebijakan nuklir Korea Utara.

Hal ini terjadi beberapa bulan setelah para pemimpin Iran terkemuka, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei dan beberapa penasihat senior, tewas dalam operasi militer AS-Israel.

Peringatan dari Kasus Iran

Profesor Andrei Lankov dari Universitas Kookmin menilai kebijakan tersebut mungkin sudah ada sebelumnya, tetapi sekarang diberi bobot hukum yang lebih besar melalui konstitusi. “Iran adalah peringatan bagi mereka. Korea Utara melihat efisiensi luar biasa dari serangan pemenggalan kepala AS-Israel yang melenyapkan kepemimpinan Iran, dan mereka sekarang pasti ketakutan,” ungkapnya.

Tidak seperti Iran, Korea Utara tetap menjadi salah satu negara paling terisolasi, yang membuat operasi intelijen serupa menjadi sangat sulit. Laporan menunjukkan intelijen Israel melacak pemimpin Iran melalui kamera lalu lintas yang diretas, namun taktik ini sulit direplikasi di Pyongyang karena sistem CCTV yang terbatas dan jaringan internet yang sangat tertutup.

 

Selain kebijakan nuklir, laporan yang mengutip media pemerintah Korea Utara tersebut juga menyebutkan bahwa Pyongyang berencana mengerahkan sistem artileri jarak jauh baru di dekat perbatasan dengan Korea Selatan tahun ini.

Menurut KCNA, Kim baru-baru ini memeriksa produksi "meriam howitzer swagerak 155 milimeter tipe baru" yang mampu menyerang target sejauh lebih dari 37 mil (sekitar 60 km). Sebagai perbandingan, pusat kota Seoul terletak hanya sekitar 35 mil dari perbatasan. Sistem artileri baru ini diklaim akan memberikan keuntungan signifikan bagi operasi darat militer Korea Utara.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya