Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan masih terdapat ketidakpastian besar terkait jumlah sebenarnya penderita dan luas penyebaran wabah Ebola kali ini.
Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi DR Kongo dan diyakini berasal dari kelelawar. Wabah saat ini menjadi kejadian ke-17 Ebola di negara tersebut.
Penyakit mematikan itu menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit yang terluka. WHO mencatat tingkat kematian Ebola rata-rata mencapai sekitar 50 persen.
Sebelumnya, Africa Centres for Disease Control and Prevention juga menyampaikan kekhawatiran atas tingginya risiko penyebaran akibat kepadatan wilayah perkotaan di Rwampara dan Bunia serta aktivitas pertambangan di Mongwalu.
Direktur Eksekutif Africa CDC, Jean Kaseya, menegaskan koordinasi regional menjadi sangat penting mengingat tingginya pergerakan penduduk antarwilayah dan negara tetangga.
Selama 50 tahun terakhir, sekitar 15 ribu orang dilaporkan meninggal akibat Ebola di berbagai negara Afrika.
Wabah Ebola paling mematikan di DR Kongo terjadi pada 2018 hingga 2020 dengan korban jiwa hampir 2.300 orang. Sementara pada tahun lalu, sebanyak 45 orang meninggal akibat wabah Ebola di wilayah terpencil.
(Awaludin)