JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Wabah yang terjadi di Provinsi Ituri, wilayah timur DR Kongo, dilaporkan telah menyebabkan sekitar 246 kasus suspek dan 80 kematian. Meski demikian, WHO menilai situasi tersebut belum memenuhi kriteria pandemi global.
Dilansir dari bbc, Minggu (17/5/2026). WHO memperingatkan wabah ini berpotensi berkembang jauh lebih besar, dibandingkan jumlah kasus yang saat ini terdeteksi. Risiko penyebaran lokal maupun regional disebut sangat tinggi, terutama karena mobilitas penduduk yang masif. Strain Ebola yang saat ini menyebar diketahui berasal dari virus Bundibugyo. Hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin yang secara resmi disetujui untuk menangani jenis virus tersebut.
Gejala awal Ebola meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi muntah, diare, ruam, hingga pendarahan hebat dan kegagalan organ.
Penyebaran virus bahkan telah meluas ke negara tetangga, Uganda. Dua kasus positif telah dikonfirmasi, termasuk seorang pria berusia 59 tahun yang meninggal dunia pada Kamis lalu. Pemerintah Uganda menyatakan pasien tersebut merupakan warga negara Kongo yang jenazahnya telah dipulangkan ke DR Kongo.
WHO menilai situasi keamanan yang tidak stabil, krisis kemanusiaan berkepanjangan, tingginya mobilitas masyarakat, serta banyaknya fasilitas kesehatan informal di wilayah terdampak memperbesar risiko penyebaran wabah.
Negara-negara yang berbatasan langsung dengan DR Kongo juga dianggap memiliki risiko tinggi akibat intensitas perdagangan dan perjalanan lintas batas.
WHO meminta DR Kongo dan Uganda segera membentuk pusat operasi darurat guna memperkuat pemantauan, pelacakan kasus, serta langkah pencegahan infeksi.
Badan kesehatan global itu juga menegaskan pasien terkonfirmasi harus segera diisolasi dan dirawat hingga dua tes virus Bundibugyo dengan jeda minimal 48 jam menunjukkan hasil negatif.
Sementara itu, negara-negara yang berbatasan dengan wilayah terdampak diminta meningkatkan pengawasan dan sistem pelaporan kesehatan.
WHO menekankan negara lain tidak perlu menutup perbatasan ataupun membatasi perjalanan dan perdagangan karena langkah tersebut dinilai tidak memiliki dasar ilmiah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan masih terdapat ketidakpastian besar terkait jumlah sebenarnya penderita dan luas penyebaran wabah Ebola kali ini.
Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi DR Kongo dan diyakini berasal dari kelelawar. Wabah saat ini menjadi kejadian ke-17 Ebola di negara tersebut.
Penyakit mematikan itu menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit yang terluka. WHO mencatat tingkat kematian Ebola rata-rata mencapai sekitar 50 persen.
Sebelumnya, Africa Centres for Disease Control and Prevention juga menyampaikan kekhawatiran atas tingginya risiko penyebaran akibat kepadatan wilayah perkotaan di Rwampara dan Bunia serta aktivitas pertambangan di Mongwalu.
Direktur Eksekutif Africa CDC, Jean Kaseya, menegaskan koordinasi regional menjadi sangat penting mengingat tingginya pergerakan penduduk antarwilayah dan negara tetangga.
Selama 50 tahun terakhir, sekitar 15 ribu orang dilaporkan meninggal akibat Ebola di berbagai negara Afrika.
Wabah Ebola paling mematikan di DR Kongo terjadi pada 2018 hingga 2020 dengan korban jiwa hampir 2.300 orang. Sementara pada tahun lalu, sebanyak 45 orang meninggal akibat wabah Ebola di wilayah terpencil.
(Awaludin)