Sugiat menekankan Indonesia menguasai sekitar 65 persen cadangan nikel dunia, sementara Eropa membutuhkan pasokan nikel untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik.
“Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia,” ujarnya.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah bertransisi menuju kendaraan listrik. Karena itu, Indonesia harus bergerak cepat sebelum teknologi baterai bergeser ke bahan nonnikel.
Menurut Sugiat, kunjungan maraton Prabowo ke Paris, Wina, dan Budapest dilakukan untuk mengunci investasi hilirisasi sebelum momentum tersebut hilang.
Tak hanya soal ekonomi, Sugiat juga menilai kunjungan ke Prancis penting untuk memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia.