Jawaban sederhananya adalah bahwa program Prabowo yang lebih menyentuh kelas bawah, dibandingkan kelas menengah dan kelas atas. Program MBG adalah contoh yang tidak dapat dinikmati kelas atas/menengah, yang kemudian secara masif menggunakan sarana handphone (HP) di media sosial untuk melakukan kritik dan agitasi terhadap kebijakan Prabowo.
Sebaliknya, kelas bawah jarang main media sosial di HP-nya, kecuali untuk kepentingan pribadi. Suara dan aspirasinya pun jarang sampai di permukaan.
Sebagai perbandingan, di era Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) prioritas programnya adalah membangun sarana infrastuktur secara masif, seperti MRT dan jalan tol. Kelas menengah/atas tentu bisa merasakan manfaatnya. Karena pemakai utama infrastuktur jalan tol adalah kelas menengah/atas yang memiliki kendaraan roda empat dan memakai bensin Pertamax non subsidi. Dan kelas atas/menengah paling aktif main HP di media sosial yang menyuarakan suara dan aspirasi politiknya di permukaan.
Ini Artinya, Prabowo sebenarnya lebih berpihak kepada rakyat kecil, ketimbang semua pendahulunya. Bagaimana mungkin ada gerakan aksi demonstrasi memperjuangkan kelas atas/menengah yang bermobil untuk dapat subsidi Pertamax, tetapi rakyat kecil malah tidak dapat MBG? Yang seharusnya ilfeel (ilang feeling, istilah kekinian) sama Prabowo itu harusnya mafia tambang dan migas, koruptor, yang lagi giat-giatnya digaruk dan disikat oleh Presiden Prabowo.
Jadi kalau pun Prabowo itu bisa berjalan di atas air, pasti tetap ada yang nyinyir: "Aah itu karena Prabowo enggak bisa berenang aja." Padahal, buat apa berenang badan jadi basah kuyub kalau bisa berjalan di atas air bukan?.
(Arief Setyadi )