Ia menyebut efek domino dari belanja wisatawan akan dirasakan oleh industri perhotelan, restoran, transportasi, penerbangan, destinasi wisata, UMKM, hingga ekonomi kreatif.
“Belanja wisatawan akan menggerakkan sektor perhotelan, restoran, transportasi, maskapai penerbangan, destinasi wisata, UMKM, ekonomi kreatif, pusat perbelanjaan, hingga meningkatkan penerimaan pajak dan membuka lapangan kerja,” tuturnya.
Ia juga menegaskan keberhasilan kebijakan bebas visa seharusnya diukur dari manfaat ekonomi bersih, bukan semata dari penerimaan negara dari visa. Kebijakan BVK tetap harus mengacu pada prinsip selektivitas, asas resiprositas, serta mempertimbangkan aspek keamanan nasional. Ia juga menekankan pentingnya penerapan prinsip timbal balik bagi negara yang mendapatkan kemudahan akses ke Indonesia.
“Di kawasan regional, negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam telah menjadikan kemudahan akses masuk sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan daya saing pariwisata, menarik investasi, dan memperkuat perekonomian nasional,” paparnya.
Menurut Evita, Indonesia tidak boleh tertinggal dalam persaingan tersebut dan perlu menempatkan kebijakan BVK sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing ekonomi nasional.