Namun, para pendukung Hayya berhasil berargumen bahwa kepemimpinan Gaza, yang telah menanggung beban terberat konflik tersebut, sekarang harus memimpin gerakan tersebut. Mereka ingin tetap teguh melawan tekanan untuk membuat konsesi besar, khususnya mengenai masalah perlucutan senjata.
Sejak menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Israel Oktober lalu, Hamas menolak untuk menyerahkan senjatanya tanpa jaminan jalur politik menuju penentuan nasib sendiri dan pembentukan negara Palestina. Mereka menolak rencana dari Dewan Perdamaian pimpinan AS yang memprioritaskan demiliterisasi segera daripada rekonstruksi.
Hamas mengeluh bahwa tidak ada jaminan keamanan terhadap serangan Israel yang terus berlanjut dan munculnya kelompok-kelompok bersenjata saingan.
Sekitar 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera dalam serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada tahun 2023.
Israel menanggapi dengan melancarkan kampanye militer besar-besaran di Gaza, di mana lebih dari 73.280 orang tewas, termasuk 1.158 orang sejak gencatan senjata dimulai, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut yang dikelola Hamas.
(Rahman Asmardika)