Namun, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Riyadh mengaku bertanggung jawab atas serangan ke bandara tersebut. Pemerintah menyebut serangan dilakukan karena adanya pesawat Iran yang mendarat tanpa izin.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, saat itu menyatakan bahwa serangan terhadap bandara telah mengakhiri "fase de-eskalasi" yang dijaga kedua pihak sejak gencatan senjata informal mulai berlaku pada 2022.
Meski tidak pernah diformalkan, gencatan senjata tersebut telah bertahan selama empat tahun dan menjadi jeda terpanjang dalam konflik sejak koalisi pimpinan Arab Saudi mengintervensi Yaman pada 2015 untuk mendukung pemerintah.
Selama puncak serangan Israel ke Gaza, Houthi sempat menerapkan blokade terhadap pelayaran di Laut Merah. Namun, kelompok tersebut sebagian besar tetap berada di luar konflik langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Meski demikian, saling serang antara Houthi dan Arab Saudi dikhawatirkan dapat memicu eskalasi lebih luas di kawasan. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap perekonomian global apabila jalur pelayaran di Laut Merah terganggu. Di sisi lain, Selat Hormuz, yang juga merupakan jalur utama perdagangan energi dunia, sebagian besar telah diblokir oleh Iran.