Ia mengatakan, pada dasarnya budaya bangsa Indonesia adalah memuliakan alam. Namun, dalam proses pembangunan, masyarakat terkadang terhipnotis oleh budaya yang serba cepat dan berorientasi pada pertumbuhan, sehingga mengabaikan kelestarian alam dengan anggapan kerusakan bisa diperbaiki belakangan.
"Hal-hal semacam itu harus kita tinggalkan. Sekarang kita harus kembali kepada budaya yang memuliakan alam dan lingkungan, memuliakan bumi," tuturnya.
Dalam pembicaraan di Kepatihan DIY, lanjut Menteri Jumhur, Sri Sultan juga bercerita mengenai sejumlah terobosan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang tidak taat menjaga lingkungan.
"Saya termasuk orang yang terhenyak mendengar cerita beliau. Beliau berani mempermasalahkan orang yang dengan sengaja melanggar atau merusak lingkungan," katanya.
Kata dia, hal itu menambah keberanian bagi dirinya dan jajaran KLH untuk tidak lagi main-main dalam menindak para perusak lingkungan.
"Saya menilai itu contoh yang sangat baik dan menambah keberanian saya," ujar Menteri Jumhur.