JAKARTA - DPP PDIP menggelar peringatan peristiwa kerusuhan 27 Juli atau yang dikenal dengan sebutan Kudatuli. Peringatan tersebut digelar langsung di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).
Pementasan teatrikal ini dibawakan kelompok seni Teater Gates. Teatrikal tersebut memperagakan kembali detik-detik mencekam peristiwa penyerbuan kantor PDI 30 tahun silam.
Para pemain menunjukkan bagaimana massa PDI kubu Soerjadi yang didukung rezim Orde Baru menyerbu dan merusak kantor PDI yang saat itu dipertahankan oleh massa pendukung setia Megawati Soekarnoputri.
Tidak hanya korban luka yang berjatuhan, aksi teatrikal juga menunjukkan bagaimana penyerbuan dari kubu Soerjadi tersebut menyebabkan lima orang dari kubu Megawati meninggal dunia.
Usai aksi teatrikal tersebut, acara dilanjutkan dengan upacara ruwatan oleh masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang (Banten Kidul). Ruwatan adat ini ditujukan sebagai simbol pembersihan batin, merawat ingatan kolektif, sekaligus doa bersama bagi arwah para korban yang gugur.
Pertunjukan teatrikal ini turut disaksikan secara langsung oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang didampingi elite partai. Selain itu, hadir pula tokoh senior Sidarto Danusubroto, sejumlah seniman, hingga tokoh pro-demokrasi. Sementara itu, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menyaksikan jalannya acara secara daring (online).
Hasto mengajak seluruh kader partai untuk melakukan hening sejenak guna mendoakan korban peristiwa kerusuhan Kudatuli. Momen tersebut dilakukan usai pementasan teatrikal yang menggambarkan detik-detik mencekam penyerbuan kantor PDI 30 tahun silam.
"Saya mengajak para senior partai dan saudara-saudara sekalian untuk hening sejenak," kata Hasto dari mimbar acara peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli di kantor DPP PDIP.
Hasto menyampaikan doa dan penghormatan tersebut dipersembahkan bagi seluruh korban Peristiwa Kudatuli, baik yang meninggal, hilang, maupun mengalami luka-luka akibat tragedi tersebut.
"Hening untuk sekurang-kurangnya untuk lima saudara kita yang telah gugur. Asmayadi Soleh, Suganda Siagian, Slamet, Uju bin Asep dan Sariwan, serta kita hening untuk 23 saudara kita yang hilang dan hingga saat ini tidak ada kepastian tentang nasibnya," ujarnya.
Hasto juga mengajak seluruh hadirin mengenang 149 korban yang mengalami luka-luka serta mereka yang selama tiga dekade memikul trauma. "Hening untuk 149 yang terluka dan untuk semua yang memikul luka itu dalam diam selama 30 tahun," tuturnya.
Hasto menilai peristiwa Kudatuli menjadi salah satu bukti kelam penggunaan kekuasaan secara represif pada masa Orde Baru. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan upaya membungkam demokrasi dan suara-suara yang berbeda.
"Sebab apa yang terjadi saat itu sangatlah dahsyat, kekuasaan otoriter Orde Baru mencoba membunuh demokrasi, mematikan kemanusiaan, dan mengubur keadilan," katanya.
(Arief Setyadi )