JAKARTA - India menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat (AS) yang menikmati tingkat kemitraan formal yang tinggi dengan Uni Eropa. Hal ini menyusul disepakatinya kerja sama perdagangan dan teknologi yang lebih dalam antara kedua belah pihak.
Menurut laporan The European Conservative, Uni Eropa dan India pada Rabu (22/7/2026) sepakat untuk memperdalam hubungan secara signifikan di bidang perdagangan dan teknologi. Langkah ini menempatkan India sebagai mitra kunci dalam upaya Brussel untuk mendiversifikasi rantai pasokan dan mengurangi ketergantungan pada China.
Dilansir Greek City Times, Selasa (28/7/2026), pertemuan ketiga Dewan Perdagangan dan Teknologi Uni Eropa-India berlangsung di Brussel, mempertemukan para pejabat tinggi dari kedua belah pihak. India diwakili oleh Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Perdagangan dan Industri Piyush Goyal, dan Menteri Negara untuk Elektronik dan Teknologi Informasi Jitin Prasada. Delegasi Komisi Eropa dipimpin oleh Henna Virkkunen, Maroš Šefčovič, dan Ekaterina Zaharieva.
Meskipun dewan ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2022 oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Perdana Menteri India Narendra Modi, kedua pihak kini telah berkomitmen untuk memperluas cakupannya sebelum akhir tahun. Bagi India, ini tetap menjadi satu-satunya dewan perdagangan dan teknologi dengan blok atau negara besar mana pun. Bagi Uni Eropa, ini merupakan badan kedua setelah yang didirikan bersama Amerika Serikat pada tahun 2021—yang menggarisbawahi semakin pentingnya peran strategis New Delhi.
Inisiatif baru mencakup diskusi tentang partisipasi India dalam program penelitian Horizon Europe, pembentukan pusat bersama untuk teknologi pengisian daya kendaraan listrik, aliansi perusahaan rintisan teknologi tinggi, dan peningkatan kolaborasi di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, superkomputer, teknologi kuantum, dan jaringan 6G. Kedua pihak juga berjanji untuk meningkatkan koordinasi dalam rantai pasokan farmasi, pangan, dan energi.