JAKARTA - Ketua Majelis Persatuan Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo menyoroti dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok ekonomi bawah.
Hal itu disampaikan Hary saat memberikan arahan dalam pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) 2026 Partai Perindo di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Hary mengatakan situasi global saat ini dipenuhi berbagai gejolak, mulai dari konflik geopolitik hingga perang dagang yang berdampak pada ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Jadi oleh karenanya, situasi global ini sangat, sangat tidak menentu. Kita tahu semua. Akibatnya apa? Dampaknya di Indonesia luar biasa. Rupiah tembus 18.000, hari ini berapa rupiahnya?" kata Hary.
Ia juga menyinggung kenaikan harga minyak dunia yang dinilai memberi tekanan tambahan bagi Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak.
"Harga minyak naik, kemarin 90 dolar, minggu lalu 100 dolar. Dan itu dampaknya besar karena kita net importer," ujarnya.
Menurut Hary, kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak akan membuat harga berbagai kebutuhan ikut meningkat karena banyak komponen barang masih bergantung pada impor.
"Dengan kurs yang melemah juga, akibatnya apa? Barang-barang itu mahal. Semua akan kena. Semua lapisan masyarakat akan kena. Mau bangun rumah pasti biayanya lebih tinggi. Barang apa pun juga pasti lebih tinggi harganya karena tiap unsur barang itu ada unsur impor yang dibiayai dengan dolar," tuturnya.
"Jadi semua lapisan masyarakat kena, dan yang paling terpukul tentunya lapisan masyarakat bawah. Ada perubahan sedikit pasti mereka sangat menderita. Itu yang terjadi di Indonesia sekarang," sambungnya.