“Rasa takut dan trauma muncul ketika terjadi gempa susulan. Itulah yang membuat masyarakat di Ndehes masih tidur di tenda pada malam hari. Rumah yang mereka tinggali ditinggalkan sementara karena takut gempa susulan,” tutur Sabinus.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap mata pencaharian warga. Sabinus menyebut masyarakat untuk sementara hanya bisa bertahan di tenda, sehingga bantuan yang datang langsung ke desa menjadi dukungan yang sangat berharga.
“Kami merasa sangat bersyukur Partai Perindo turut mengambil bagian dalam duka yang kami alami. Saat ini kami tidak bisa ke mana-mana untuk mencari nafkah dan hanya bertahan di tenda masing-masing,” ucapnya.
Situasi di Manggarai merupakan bagian dari dampak luas gempa Flores. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang luka-luka, dan 179.037 orang mengungsi. Selain itu, sebanyak 81.436 rumah serta 1.951 fasilitas umum—termasuk sekolah, tempat ibadah, dan kantor pemerintahan—mengalami kerusakan, dengan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur sebagai wilayah terdampak paling parah.
Di tengah kondisi ini, Partai Perindo menilai penanganan tidak boleh berhenti pada bantuan darurat di pengungsian. Pemulihan infrastruktur menjadi langkah krusial agar masyarakat dapat segera kembali ke rumah, bekerja, dan menjalankan aktivitas harian secara aman.
(Rahman Asmardika)