Lebih lanjut, Gus Ipul membeberkan dua mekanisme yang sebelumnya menjadi perdebatan dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Mekanisme pertama yakni teknis yang sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
"Tapi kalau ada perubahan, nanti tidak lagi one man one vote, satu wilayah satu, satu cabang bisa memilih sekurang-kurangnya lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya berapa (tergantung keputusan muktamirin)," katanya.
Calon Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, mengungkapkan dirinya bersama empat calon Ketua Umum lainnya sepakat agar pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Hal itu disampaikan Zulfa dalam Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Zulfa menyebut telah melakukan komunikasi pribadi dengan sejumlah calon Ketua Umum serta orang-orang yang dipercaya untuk mengetahui sikap para kandidat terkait mekanisme pemilihan.
"Bismillahirrahmanirrahim, yang mulia seluruh peserta sidang pleno pada sore hari ini, izinkan saya menyampaikan hasil komunikasi saya pribadi dan juga orang-orang saya yang sangat saya percaya dengan para caketum, calon ketua umum yang selama ini kita sudah dengar namanya," kata Zulfa.
Ia menjelaskan salah satu pertimbangan utama kesepakatan ini adalah keinginan agar kepemimpinan NU ke depan, khususnya di jajaran Tanfidziyah, merupakan hasil gabungan antara mekanisme pemilihan (election) dan seleksi (selection), bukan murni sistem pemilihan tanpa proses penyaringan.
"Kita ingin kepemimpinan NU ke depan terutama di tanfidziyah gabungan antara election dan selection. Tidak election murni, tidak sistem pemilihan murni tapi tidak ada seleksi," ujarnya.
Ia mengungkapkan usulan mekanisme ini bermula dari dirinya bersama Wakil Rais 'Aam, KH Afifuddin Muhajir, dengan skema keterlibatan Pengurus Cabang (PCNU) sejak tahap pengusulan nama, sebelum akhirnya diseleksi oleh Rais 'Aam dan AHWA.