“Sehingga wajar jika segmen Flores bagian barat memiliki kluster seismisitas gempa susulan menjadi sangat banyak. Ini yang menyebabkan total aktivitas gempa susulan di Flores menjadi sangat banyak yang seolah tak lazim, karena aktifnya sumber gempa lain, sehingga event gempa lain ikut meramaikan aktivitas gempa Flores,” katanya.
Daryono juga mengungkapkan fenomena aktifnya sumber gempa lain pascagempa utama dan memicu banyak gempa susulan di kluster di luar jalur sesar utama disebut sebagai “off-fault seismicity”. Fenomena “off-fault seismicity” umumnya dipicu oleh transfer tegangan statis (Coulomb stress transfer).
“Ketika patahan utama pecah, beban tegangan tidak hilang begitu saja, melainkan berpindah dan membebani patahan-patahan kecil di sekitarnya yang tadinya terkunci. Tingginya jumlah aktivitas gempa susulan Flores M7,7 yang luar biasa banyak, sudah terjawab karena adanya fenomena “off-fault seismicity”,” ujarnya.
Daryono mengatakan, fenomena off-fault seismicity (gempa susulan yang terjadi di luar bidang patahan utama) yang dapat memicu jumlah gempa susulan menjadi sangat banyak pernah terjadi saat Gempa Ambon M6,5 pada 26 September 2019. Saat itu, gempa utama Ambon memicu aktifnya sesar-sesar aktif lain di sekitar sesar gempa utama, yang menyebabkan terjadinya gempa susulan lebih dari 3.000 kali.
“Beberapa contoh gempa luar negeri yang menunjukkan off-fault seismicity dengan aktivitas susulan luar biasa padat: Gempa Ridgecrest California M7,1 (2019), Gempa Landers California M7,3 (1992), Gempa Kumamoto, Jepang M7,3 (2016) dan Gempa Kaikōura, Selandia Baru M7,8 (2016). Gempa gempa ini membangkitkan aktifnya sesar di sekitar sesar pembangkit gempa utama (mainshock),” pungkasnya.
(Arief Setyadi )