Lebih lanjut, Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI itu menekankan bahwa suksesi kepemimpinan PBNU memiliki arti strategis bagi kehidupan berbangsa, mengingat NU merupakan ormas Islam terbesar yang menjadi penopang utama moderasi beragama di Indonesia.
“NU adalah pilar kebangsaan. Siapa pun yang memimpin PBNU otomatis mengemban tanggung jawab menjaga wajah Islam Indonesia yang toleran dan moderat, sekaligus menjadi mitra strategis negara dalam merawat NKRI,” ujar Sarmuji.
Ia juga menyampaikan penguatan ekonomi umat berbasis pesantren perlu menjadi salah satu fokus utama kepengurusan PBNU ke depan, mengingat jaringan pesantren NU yang tersebar di seluruh Indonesia memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
“Kami berharap kepengurusan baru PBNU dapat semakin mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan umat, sehingga NU tidak hanya menjadi kekuatan moral-keagamaan, tapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput,” pungkasnya.
Sebelumnya, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) telah memilih Ketua Umum (Ketum) PBNU yang baru, yakni KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam periode 2026-2031.
(Arief Setyadi )