JAKARTA – Rudal Kheibar Shekan milik Iran telah menjadi salah satu senjata yang paling banyak dibicarakan dalam konflik antara negara itu dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Rudal balistik jarak menengah ini digunakan oleh Iran dalam serangan terhadap target militer dan infrastruktur AS di Timur Tengah pekan ini, sebagai balasan atas serangan terbaru dari Washington.
Kheibar Shekan, yang dalam bahasa Persia berarti "Penghancur Benteng", adalah rudal balistik jarak menengah yang dikembangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai bagian dari rangkaian persenjataan rudal mereka yang lebih luas. Rudal ini diperkenalkan pada tahun 2022. Namanya diambil dari 'Khaybar', istilah untuk permukiman berbenteng yang terkait dengan sejarah awal Islam, serta kata 'Shekan' yang berarti penghancur atau pemecah.
Rudal ini merupakan salah satu sistem rudal jarak menengah terbaru milik Iran, dengan jangkauan sekitar 1.450 kilometer dan kapasitas muatan (payload hulu ledak) antara 449 kilogram hingga 590 kilogram.
Sebagai perbandingan, AS telah memperkenalkan Precision Strike Missiles (PrSM) selama konflik berlangsung; rudal ini digambarkan oleh produsennya, Lockheed Martin, sebagai rudal serangan presisi jarak jauh yang mampu menghantam target dalam jarak mulai dari 60 kilometer hingga lebih dari 499 kilometer.
Amerika Serikat juga telah menggunakan rudal jelajah Tomahawk, yaitu senjata berpemandu presisi jarak jauh yang mampu terbang pada ketinggian rendah dan menghantam target hingga jarak 2.500 kilometer.
Dilansir Al Jazeera, salah satu karakteristik utama rudal Kheibar Shekan adalah sistem propulsi berbahan bakar padat, yang memungkinkannya diluncurkan dalam hitungan menit saat terjadi krisis. Rudal berbahan bakar padat sudah memiliki bahan bakar yang terisi di dalamnya, sehingga tidak perlu diisi ulang sesaat sebelum peluncuran—sebuah proses yang bisa memakan waktu beberapa jam. Hal ini menjadikannya lebih mudah dan aman untuk dioperasikan, lebih sulit terdeteksi, serta membutuhkan dukungan logistik yang lebih sedikit untuk pengangkutan bahan bakar.
Bahan bakarnya memiliki kepadatan tinggi dan terbakar dengan cepat, menghasilkan daya dorong yang singkat namun sangat kuat. Bahan bakar ini juga dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa mengalami penurunan kualitas atau kerusakan, berbeda dengan bahan bakar cair yang lebih rentan terhadap degradasi.
Iran telah berulang kali menyatakan bahwa mereka menggunakan rudal Kheibar Shekan untuk menyerang posisi militer AS di kawasan tersebut sejak konflik enam bulan itu bermula akibat serangan AS-Israel terhadap Teheran dan lokasi-lokasi lain di sekitar Iran pada 28 Februari.
Lembaga penyiaran negara IRIB melaporkan bahwa pasukan Iran mengerahkan rudal tersebut dalam serangan balasan terhadap aset-aset AS di Yordania pada minggu ini.
Pada bulan Juli, IRGC merilis rekaman yang memperlihatkan rudal Kheibar Shekan—bersama dengan rudal balistik Fateh-110, Zolfaghar, dan Emad—digunakan dalam serangan terhadap target militer AS.
Empat hari sebelumnya, IRGC menyatakan telah menargetkan fasilitas pemeliharaan jet AS dan pusat komando-dan-kendali baru di Azraq, Yordania, menggunakan rudal Kheibar Shekan.
Iran juga memiliki kombinasi rudal jarak pendek, menengah, dan jauh.
Rudal balistik jarak pendek, yang memiliki jangkauan sekitar 150 kilometer hingga 800 kilometer, dirancang untuk menjangkau target militer di dekatnya melalui serangan cepat di kawasan tersebut. Sistem utamanya mencakup varian Fateh: Zolfaghar, Qiam-1, serta rudal Shahab-1/2 yang lebih lawas.
Jangkauan yang lebih pendek ini bisa menjadi keuntungan dalam situasi krisis karena rudal-rudal tersebut dapat diluncurkan secara bertubi-tubi (dalam jumlah banyak sekaligus), sehingga memangkas waktu peringatan dan menyulitkan upaya serangan pendahuluan (pre-emptive strike) oleh lawan.
Rudal balistik jarak menengah, dengan jangkauan sekitar 1.500 kilometer hingga 2.000 kilometer (900–1.200 mil), mencakup sistem seperti Shahab-3, Emad, Ghadr-1, varian Khorramshahr, dan Sejjil, serta desain yang lebih baru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.
Rudal-rudal ini menempatkan target-target di Israel dan lokasi-lokasi yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk dalam jangkauan serangannya.
Iran juga memiliki persenjataan rudal jelajah seperti Soumar, Ya-Ali, varian Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad. Rudal Soumar memiliki jangkauan sejauh 2.500 kilometer.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebelumnya membatasi jangkauan rudal Iran hingga 2.200 kilometer, namun mencabut batasan tersebut setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025.
(Rahman Asmardika)