Hubungan antara kedua negara semakin tegang dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan perbedaan sikap Aljir dan Abu Dhabi terkait sejumlah isu regional.
Aljazair menentang normalisasi hubungan dengan Israel, sementara UEA dan Maroko — yang merupakan rival regional Aljazair — justru menjalin hubungan diplomatik dengan Israel melalui Kesepakatan Abraham yang ditengahi oleh Amerika Serikat pada tahun 2020.
Kedua negara juga berada di pihak yang berlawanan dalam sengketa Sahara Barat yang telah berlangsung selama beberapa dekade. UEA mendukung klaim kedaulatan Maroko atas wilayah tersebut, di mana UEA juga memiliki kantor konsulat, sedangkan Aljazair mendukung Front Polisario yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat.
Kepentingan kedua negara semakin sering berbenturan di kawasan Sahel. Di wilayah ini, UEA telah memperluas hubungan dengan sejumlah pemerintahan dalam beberapa tahun terakhir, sementara hubungan Aljazair dengan beberapa negara tetangga di selatannya justru merenggang akibat serangkaian kudeta militer.
Presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune, kerap menyebut UEA dalam pidatonya sebagai "negara mikro" atau "negara kecil" yang berupaya mengacaukan stabilitas sejumlah negara di kawasan tersebut.
"Di mana pun mereka menjejakkan kaki, darah akan mengalir," ujarnya dalam sebuah wawancara televisi pada bulan Juli, seraya menambahkan bahwa UEA telah memberikan "dampak yang sangat negatif".
"Kami ingin mereka menjauh agar darah tidak mengalir di negara kami," tambahnya.
Saat itu, Tebboune menyatakan bahwa pemutusan hubungan diplomatik "seharusnya sudah terjadi sejak lama" seandainya Aljazair tidak berupaya menghindari "semakin dalamnya perpecahan" di dunia Arab.
(Rahman Asmardika)