Andri mengingatkan bukan berarti perairan seperti Laut Jawa, Laut Maluku, dan Laut Sulawesi selalu aman. Ada periode tertentu ketika gelombang di wilayah tersebut meningkat, seperti kondisi yang terjadi saat ini.
Selain gelombang tinggi, pelaut juga perlu mewaspadai fenomena squall atau peningkatan kecepatan angin secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Fenomena tersebut dapat terjadi ketika terdapat gugusan awan tebal, termasuk awan cumulonimbus.
"Squall ini sebenarnya biasa terjadi kalau ada gugusan awan-awan yang tebal. Kita bisa sebut sebagai cumulonimbus yang gelap, pekat, bergumpal dan sebagainya. Itu bisa menyebabkan peningkatan kecepatan angin yang tiba-tiba, tetapi singkat," kata Agie.
Andri mengatakan bahwa aman atau tidaknya sebuah pelayaran tidak ditentukan hanya berdasarkan satu variabel. Kondisi kapal, cuaca, tinggi gelombang, kecepatan angin, arus, hingga rute yang ditempuh harus diperhitung secara menyeluruh.
Karena itu, informasi cuaca tidak boleh diabaikan oleh pelaku pelayaran. Dengan dukungan teknologi dan informasi prakiraan yang semakin detail, kondisi laut dapat dipantau lebih awal sehingga keputusan terkait perjalanan, rute, dan keselamatan kapal dapat dipersiapkan secara lebih matang.
Informasi cuaca dari BMKG dapat menjadi salah satu referensi penting bagi operator kapal. Informasi tersebut tersedia untuk periode 1 hari, 3 hari, hingga 7 hari ke depan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakukan perencanaan perjalanan dan mitigasi risiko sejak dini.