Kepung Houthi di Dhubab, Pasukan Yaman Klaim Amankan Selat Bab al-Mandab

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 06 Oktober 2026 13:29 WIB
Pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangan besar-besaran terhadap posisi Houthi.
Share :

RIYADH — Pasukan pro-pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menyatakan telah "mengamankan" Selat Bab al-Mandab setelah merebut kembali beberapa titik strategis dari kelompok Houthi. Keberhasilan ini menjadi awal dari serangan besar-besaran koalisi terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut.

Seorang juru bicara militer Yaman mengonfirmasi bahwa Brigade Giants dan pasukan Perisai Nasional tengah mengepung para petempur Houthi di kota pesisir Laut Merah, Dhubab. Kota tersebut menghadap langsung ke jalur pelayaran strategis Bab al-Mandab. Pengepungan dilakukan setelah pasukan gabungan menguasai bandara setempat dan memutus akses jalan menuju kota pelabuhan Mokha. Namun, media yang dikelola Houthi membantah klaim kemajuan posisi pasukan pemerintah di wilayah Dhubab tersebut.

Pihak pemerintah menegaskan bahwa operasi militer juga telah dimulai di beberapa front lain, termasuk di ibu kota Sanaa yang jatuh ke tangan Houthi pada awal perang saudara 12 tahun silam. Sementara itu, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa jet-jet tempur mereka telah menghancurkan lebih dari 300 target "bernilai strategis tinggi" demi mendukung ofensif tersebut.

Sebelumnya pada Minggu (4/10/2026), Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang diakui secara internasional mengumumkan dimulainya serangkaian ofensif untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Ia menegaskan bahwa segala peluang untuk meredakan ketegangan telah habis.

Rashad al-Alimi menyerukan kepada seluruh angkatan bersenjata, aparat keamanan, dan formasi militer "untuk mulai melaksanakan misi yang telah ditetapkan, sesuai dengan rencana yang disetujui, hingga negara ini dibebaskan dari cengkeraman milisi teroris Houthi".

Eskalasi ini terjadi setelah para pejuang Houthi dilaporkan memutus akses jalan pegunungan di dekat kota Taiz di bagian barat daya, yang mengakibatkan pasukan pemerintah dan penduduk setempat terkepung. Sebagai balasan atas puluhan serangan udara Saudi, kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas minyak milik Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi.

 

Yaman telah porak-poranda akibat perang saudara yang bermula pada tahun 2014, saat kelompok Houthi menggulingkan pemerintah dari Sanaa. Konflik tersebut kian memanas pada 2015 setelah koalisi negara-negara Arab pimpinan Saudi melakukan intervensi militer untuk memulihkan kekuasaan pemerintah.

Gencatan senjata informal yang telah berlangsung selama empat tahun mulai goyah pada Juli lalu, ketika Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi. Mereka mulai melancarkan serangan rudal dan drone ke bandara, fasilitas minyak, serta kapal tanker Saudi di Laut Merah. Houthi berkali-kali menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan balasan atas blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka, serta serangan udara di bandara Sanaa.

Bulan lalu, Houthi melancarkan serangan mendadak di sepanjang pesisir barat daya Yaman yang menghadap Laut Merah. Mereka mengusir pasukan pro-pemerintah dari wilayah-wilayah yang menguasai akses ke Selat Bab al-Mandab, termasuk Dhubab, Mokha, dan Pulau Perim (Mayyun). Houthi menegaskan tidak akan mengancam pelayaran internasional umum di jalur tersebut, melainkan hanya menargetkan kapal-kapal milik Arab Saudi.

Menurut data Kementerian Kesehatan pemerintah setempat, setidaknya 959 orang tewas dan 5.000 orang terluka dalam pertempuran di Yaman sejak 6 Agustus lalu. PBB melaporkan sebanyak 197.000 warga lainnya terpaksa mengungsi.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya