Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak usulan Iran tersebut, dengan mengatakan bahwa Teheran ingin "membuat kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan yang ingin saya buat." Ia juga mengisyaratkan bahwa serangan AS dapat kembali dilancarkan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyatakan pekan lalu bahwa Teheran telah "kehilangan kendali penuh" atas Selat Hormuz dan bahwa arus minyak mulai mendekati tingkat sebelum perang.
Namun, Rezaei menepis klaim Washington bahwa selat tersebut terbuka dan menegaskan bahwa Iran akan tetap memegang kendali atas jalur perairan itu. Ia juga menuduh kepala Komando Pusat AS mengarahkan operasi penyelunduptan minyak dengan dukungan militer UEA.
Di tengah pernyataan yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran, risiko keamanan di jalur perairan vital tersebut masih terus ada. Pekan lalu, sebuah kapal tanker minyak diserang di dekat Oman, yang mengakibatkan 12 awak kapal terluka. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Sementara itu, harga minyak terus berfluktuasi sebagai respons terhadap krisis di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent naik hingga di atas USD 106 per barel pada Senin seiring serangan Houthi terhadap Arab Saudi yang menambah kekhawatiran mengenai pasokan di kawasan tersebut. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa tekanan terhadap rantai pasokan energi akan semakin meningkat hingga Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya.
(Rahman Asmardika)