JAKARTA - Benarkah nama Indonesia terdiri dari sembilan huruf yang merujuk pada Walisongo? Klaim ini beredar karena kata “Indonesia” memiliki sembilan huruf, sama dengan jumlah Walisongo yang dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa.
Klaim tersebut bahkan disertai daftar nama yang disebut-sebut sebagai kepanjangan dari setiap huruf dalam kata “Indonesia”. Namun, benarkah nama Indonesia berasal dari akronim para Walisongo?
Berikut daftar nama yang beredar dalam klaim tersebut:
- I: Ibrahim Malik (Sunan Gresik)
- N: Nawai Macdhum (Sunan Bonang)
- D: Dorojatun R Khosim (Sunan Drajat)
- O: Oesman R Djafar Sodiq (Sunan Kudus)
- N: Ngampel R Rahmat (Sunan Ampel)
- E: Eka Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
- S: Syaid Umar (Sunan Muria)
- I: Isyhaq Ainul Yaqin (Sunan Giri)
- A: Aburahman R Syahid (Sunan Kalijaga)
Dilansir dari laman Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), informasi yang menyebut nama Indonesia merupakan akronim dari nama-nama Walisongo adalah hoaks atau tidak benar.
Mengutip buku The Idea of Indonesia: A History karya R.E. Elson, istilah “Indonesia” pertama kali muncul pada 1850 dalam bentuk “Indu-nesians”. Istilah tersebut diperkenalkan oleh George Samuel Windsor Earl, seorang pelancong dan pengamat sosial asal Inggris.
Saat itu, Earl tengah mencari sebutan untuk menggambarkan penduduk Kepulauan Hindia yang kala itu dikategorikan sebagai bagian dari ras Polinesia atau kelompok berkulit cokelat.
Namun, Earl kemudian menolak istilah yang dibuatnya sendiri karena dinilai terlalu umum. Ia lebih memilih istilah “Malayunesians” yang dianggap lebih spesifik.
Berbeda dengan Earl, rekannya, James Richardson Logan, justru menilai istilah “Indonesia” lebih tepat digunakan sebagai istilah geografis, bukan etnografis. Menurut Logan, istilah tersebut merupakan bentuk yang lebih ringkas untuk menyebut Kepulauan Hindia atau Indian Archipelago.
Dalam penggunaannya, kata “Indonesian” merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan gugusan kepulauan tersebut, sedangkan “Indonesians” berarti penduduknya.
Dengan membedakan penggunaan istilah secara geografis dan etnologis, Logan tercatat sebagai tokoh yang menggunakan nama “Indonesia” untuk menggambarkan wilayah kepulauan tersebut. Dalam tulisan-tulisan berikutnya, ia menggunakan istilah “Indonesia”, “Indonesian”, dan “Indonesians”, meskipun tetap mempertahankan penggunaan istilah Indian Archipelago.
Berdasarkan penjelasan tersebut, klaim bahwa nama Indonesia berasal dari akronim nama-nama Walisongo tidak memiliki dasar sejarah yang valid dan telah dinyatakan sebagai hoaks oleh Komdigi.
Nama Indonesia justru berkembang dari penggunaan istilah oleh para peneliti Barat pada abad ke-19. Adapun kesamaan jumlah sembilan huruf dalam kata “Indonesia” dengan jumlah Walisongo hanyalah kebetulan dan bukan bukti bahwa keduanya memiliki keterkaitan dalam asal-usul nama.
(Awaludin)