Kondisi tersebut membuat area permukaan mungkin terlihat sudah padam, tetapi bara api (smoldering) akan terus merayap di bawah tanah. Saat lapisan organik di dalam tanah habis terbakar, barulah terbentuk lubang yang mengeluarkan asap serta pijar api.
“Sifatnya yang tersembunyi dan minim radiasi panas tinggi di permukaan membuat api bawah tanah ini sulit terdeteksi oleh citra satelit pemantau hotspot biasa,” ujarnya.
Ketika menghadapi kondisi seperti itu di lapangan, petugas melakukan pemadaman melalui pembasahan total (ground soaking) dengan teknik penyuntikan air (water injection) hingga menembus kedalaman gambut menggunakan pipa bertekanan tinggi.
“Bila memungkinkan, langkah ini dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di titik-titik yang sulit dijangkau satgas darat,” ucap Berton.
Selain itu, pembangunan sumur bor serta penutupan sekat kanal terus dioptimalkan guna menjaga tinggi muka air tanah tetap basah. Pembatasan akses masyarakat ke lokasi terdampak juga penting dilakukan karena struktur tanah yang tersisa sangat rapuh dan rawan ambles. Kondisi ini berisiko membuat warga terperosok ke dalam rongga bara panas.
(Arief Setyadi )