Atas dasar itu, MUI menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan perhatian ekstra dan kepemimpinan langsung hingga bencana karhutla ini benar-benar tuntas teratasi.
MUI juga mengimbau seluruh jajaran Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta para relawan untuk terus memperkuat sinergi. Seluruh sumber daya yang ada diharapkan dapat dikerahkan secara maksimal demi mempercepat pemadaman api di lapangan.
Di sisi lain, MUI mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan mandiri. MUI menyarankan warga untuk selalu menjaga kesehatan diri dan keluarga, salah satunya dengan konsisten menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah serta sebisa mungkin menghindari daerah berkategori risiko tinggi kabut asap.
MUI juga mengajak masyarakat luas untuk menumbuhkan semangat gotong royong dalam menghadapi musibah ini. Warga diimbau saling membantu tetangga yang terdampak, aktif mengantisipasi kemunculan titik api baru di sekitar pemukiman, serta menghentikan kebiasaan membakar sampah atau lahan secara sembarangan.
Sebagai bentuk penanggulangan secara spiritual, MUI menyerukan kepada seluruh umat Islam, ulama, serta pengurus masjid dan musala di seluruh Indonesia untuk mewaspadai bahaya kabut asap dan turut melakukan upaya pencegahan, khususnya di wilayah terdampak.
"MUI mengajak umat Islam untuk melaksanakan shalat Istisqa secara berjamaah guna memohon kepada Allah Ta’ala agar diturunkan hujan yang membawa berkah dan rahmat," bunyi tausiyah MUI.
“MUI juga mengajak seluruh umat Islam untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh atas segala dosa dan kelalaian, termasuk perbuatan yang merusak alam dan lingkungan, serta memperbanyak istigfar dan membaca Qunut Nazilah dalam salat fardu sebagai ikhtiar spiritual memohon perlindungan dari musibah, bahaya kabut asap, dan bencana kekeringan,” demikian keterangan MUI.
(Fahmi Firdaus )