PASURUAN - Setahun sudah tragedi Alastlogo berlalu. Pada 30 Mei kemarin ribuan warga Desa Alastlogo yang berlokasi di bagian timur Kabupaten Pasuruan ini menggelar pengajian sederhana memperingati setahun tragedi tersebut.
Bagaimana kondisi mereka sekarang?
Suasana di Desa Alastlogo, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan tidak banyak berubah dibanding setahun lalu. Saat tragedi penembakan tentara Marinir yang menewaskan 5 orang warga dan melukai 9 orang lainnya, termasuk Khoirul Anwar.
Hawa menyengat langsung terasa ketika memasuki jalan desa Alastlogo yang sebagian besar belum teduh. Mungkin karena tanahnya yang agak gersang.
Beberapa warga terlihat sibuk sambil mendorong gerobak berisi beberapa jeriken air ke sebuah sumur bor yang dibangun secara swadaya masyarakat setempat beberapa tahun lalu.
Siang tadi, semua tampak normal. Tidak ada kesan bahwa di desa berpenduduk 4.235 jiwa ini masih menyisakan persoalan dengan korps Marinir yang sampai saat ini masih rutin berlatih perang disana.
Warga, tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Seolah tidak peduli dengan berbagai kegiatan latihan tempur yang dilakukan TNI AL. Para pencari kayu juga santai saja melintas di dekat kamp tentara Marinir yang berdiri di lapangan tepat di pintu masuk menuju Desa Alastlogo. Padahal, di tengah jalan desa tak jauh dari barak itu, dipasang sebuah plang bertuliskan peringatan pada setiap warga untuk berhati-hati.
"Warga disini sudah terbiasa dengan latihan perang yang dilakukan tentara marinir," kata Kepala Desa Alastlogo Imam Supnadi dalam sebuah perbincangan.
Dia menggambarkan warganya saat ini jauh lebih tenang. Tidak lagi se-sensitif seperti pascatragedi penembakan setahun lalu. Lebih terbuka, termasuk dengan tentara.
"Sudah lebih baik. Jumat malam (30/5) kemarin kami memperingati setahun tragedi penembakan dengan mengeglar pengajian sederhana," terang Imam ramah.
Dia bilang, mereka berencana untuk memperingati kejadian itu tiap tahun. Supaya peristiwa yang telah menyebabkan 5 orang tewas dan 9 orang lainnya luka-luka pada 30 Mei 2007 lalu terus diingat oleh warga Alastlogo hingga generasi anak-cucu dimasa mendatang.
"Sebenarnya warga masih trauma dengan kejadian itu," kata Imam. Namun hal itu tidak akan membuat warganya surut langkah. Menghadapi tekanan pihak korps marinir (TNI AL) agar mau direlokasi, dia memastikan tawaran itu bakal ditolak wargannya. Ada beberapa alasan kenapa penentangan itu dilakukan.
Pertama karena warga Alastlogo merasa memiliki pemukiman itu secara turun menurun. Kedua faktor ekonomi. Ketiga karena tawaran relokasi dari pihak Marinir yang dianggap tidak realistis.
Imam menggambarkan usia desanya sudah berusia seratus tahun lebih. Jauh sebelum TNI terbentuk. Bahkan BKR yang menjadi cikal bakalnya sekalipun.
"Saya tahu karena kepala desa pertama di Alastlogo adalah buyut saya," kata Imam terus bercerita.
Faktor kesejarahan itu rupanya yang membuat ikatan emosional warganya dengan tanah peninggalan leluhur di Alastlogo tidak akan bisa dihilangkan. Ini yang menjadi alasan kuat kenapa warga Desa Alastlogo rela melakukan apa saja demi menjaga tiap jengkal tanah yang telah mereka tinggali. Â
"Sejak tahun 1960-an pajak bumi dan bangunan yang dibayar warga memang tidak lagi diterima oleh pemerintah. Tapi kami memiliki bukti pethok yang menunjukan tempat ini telah ditinggali bahkan sejak sebelum penjajah Jepang datang," ungkapnya berargumentasi.
Alasan yang tak kalah kuat adalah faktor ekonomi. Kehidupan warga Desa Alastlogo yang rata-rata bermata pencaharian dari ternak, selama ini mengandalkan kebun-kebun serta rumput dari hutan Alastlogo yang melimpah. Merelokasi 1.539 KK warga Alastlogo berarti menghadapkan mereka dengan persoalan ekonomi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Yakni persoalan lahan mata pencaharian yang hilang. Â
"Dengan tanah relokasi yang hanya seluas 500 meter persegi, praktis warga tidak akan memiliki lahan untuk ternak. Belum lagi mereka bakal kehilangan tempat untuk merumput," imbuhnya.
Uang kompensasi relokasi sebesar Rp 10 juta dianggap tidak sepadan. Karena apapun resikonya, warga Desa Alastlogo tetap akan menolak rencana relokasi dari TNI AL.
Beberapa warga Desa Alastlogo memang mengaku masih trauma dengan tragedi penembakan setahun lalu. Perasaan mencekam itu terutama dirasakan para orang tua.
Meski hidup berdampingan, tak sedikit warga yang masih menjaga jarak dengan TNI. Mungkin karena takut, perasaan tidak ingin terlibat masalah dengan aparat, atau bahkan karena masih terpendam perasaan benci. Semua sepertinya campur aduk.
"Warga di sini memilih diam bila ketemu dengan tentara yang tengah berlatih," kata Asmuni, orang tua asuh, Khairul Anwar, (5) bocah yang menjadi korban penembakan tentara Marinir waktu itu.
Dia bilang, perasaan was-was itu acapkali datang tiap kali latihan perang mulai digelar. Warga biasanya segera menyingkir dan membawa anak-anak mereka masuk ke dalam rumah.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.