Kyrgyzstan di Ambang Perang Saudara

Senin 14 Juni 2010 09:54 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 14 18 342579 ScKqKWYOAh.jpg Foto: Corbis.com

OSH - Pemerintah Kyrgyzstan kemarin mengirimkan pasukan cadangan dan sukarelawan usai kerusuhan yang dapat memicu perang saudara berkelanjutan.

Hingga kemarin, kerusuhan etnis itu menewaskan 82 orang dan melukai 1.076 orang. Pemimpin sementara Kyrgyzstan Roza Otunbayeva menuding para pendukung presiden terguling Kurmanbek Bakiyev yang menyebabkan kerusuhan tersebut.

Pendukung Bakiyev masih menguasai gedung pemerintah sejak 13 Mei silam dan menolak mengakui pemerintah pusat saat ini. Pemerintahan Otunbayeva hanya menguasai sebagian kecil wilayah di selatan. Kerusuhan itu memicu perhatian dari Rusia,Amerika Serikat (AS), dan China.

Ketiga negara itu berkepentingan terhadap Kyrgyzstan. AS memiliki pangkalan udara di Manas, 190 km dari Osh, untuk menyuplai perlengkapan senjata ke Afghanistan.

Pemimpin sementara Kyrgyzstan Roza Otunbayeva pada Sabtu (12/6) meminta bantuan militer Rusia untuk menenangkan kerusuhan etnis di wilayah selatan negara itu.

“Saya telah menandatangani surat permintaan kepada Presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk mengirimkan pasukan ke Republik Kyrgyzstan,” ujar Otunbayeva kepada stasiun televisi nasional. “Sejak kemarin, situasi semakin tidak bisa dikontrol. Kita memerlukan kekuatan militer dari luar untuk menenangkan situasi. Atas alasan ini, kita meminta bantuan kepada Rusia,” papar

Otunbayeva yang telah mendiskusikan permasalahan kerusuhan itu dengan Perdana Menteri (PM) Rusia Vladimir Putin melalui telepon pada Jumat malam (11/6). Otunbayeva dalam pidatonya yang emosional di stasiun televisi setempat meminta warga untuk kembali ke tenang.

“Saya ingin berbicara khusus pada wanita Kyrgyzstan yang kusayangi. Dalam situasi saat ini, tidak boleh memiliki perasaan dendam dan kemarahan,” pintanya.

Pasukan keamanan Kyrgyzstan telah berupaya menghentikan konflik etnik di Kota Osh.Kekerasan memasuki hari kedua kemarin, dan ribuan orang mengungsi ke perbatasan dengan Uzbekistan untuk menyelamatkan diri dari pertempuran antara etnis Kyrgyz dan Uzbek. Rumah-rumah di pasar utama komunitas etnik Uzbek terbakar dan suara tembakan masih terdengar.

Pemerintah sementara sudah menyatakan keadaan darurat dan menerapkan larangan keluar rumah. Konflik ini merupakan kekerasan terburuk di negara Asia Tengah itu sejak Presiden Kurmanbek Bakiyev digulingkan April lalu.

“Situasinya sangat buruk. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Rumah-rumah dibakar,” tandas Juru Bicara Departemen Dalam Negeri Kyrgyzstan Rakhmatillo Akhmedov.

“Pemerintah akan menyambut dengan senang hati, jika ada pihak yang siap membantu mencegah perang sipil di Kyrgyzstan selatan”. Tembakan senapan mesin terdengar di tengah upaya pasukan pemerintah mengambil alih jalanan. Sekelompok laki-laki etnik Kyrgyz, membawa tongkat besi dan senjata otomatis, datang dari tempat-tempat lain ke Osh.

BBC melaporkan ribuan orang, terutama wanita, anak-anak dan orang tua, mencoba menyeberang masuk ke Uzbekistan atau menunggu pertolongan. (AFP/Rtr/BBC/andika hm/koran si)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini