JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia sejak 1945 sudah tidak lagi bisa diterapkan saat ini.
Menurut Presiden, dunia saat ini telah banyak berubah, dan akan terus berubah.
Karena itu, di masa pemerintahannya sejak 2004, Indonesia mengembangkan strategi politik luar negeri baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, di mana perang dingin antara Blok Uni Soviet dengan Amerika Serikat yang menjadi latar belakang politik bebas aktif, sudah tiada.
Presiden menyebutnya sebagai politik luar negeri ke segala arah dengan tujuan mempunyai sejuta kawan tanpa musuh.
"Kita menyadari, di Abad ke-21, politik bebas aktif saja sudah tidak cukup. Kita harus menjalankan diplomasi bebas, aktif dan transformatif," katanya dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (16/8/2010).
Presiden menambahkan, Indonesia harus meningkatkan kinerja diplomasi bebas aktif agar lebih berorientasi pada penciptaan peluang, karena dalam era G-20, dalam era globalisasi, inilah saatnya Indonesia semakin mendunia.
"Inilah saatnya prestasi, produk, budaya, dan ide-ide Indonesia semakin menjadi bagian dari dinamika di tingkat global," ujar Presiden.
Meski begitu, bukan berarti politik bebas aktif ditinggalkan. Presiden menegaskan, Indonesia akan konsisten menjalankannya agar tidak terombang-ambing oleh kepentingan orang lain, namun tetap berjangkar pada prinsip dan kepentingan nasional.
(Lamtiur Kristin Natalia Malau)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.