JAKARTA - Sudah pernah menonton film Indonesia berjudul Janji Joni? Film yang bertutur tentang suka duka petugas jasa antar ini menceritakan betapa sulit menjalani pekerjaan sebagai petugas jasa antar barang.
Hal tersebut tak jauh berbeda dengan profesi pengantar surat yang lebih dikenal Pak Pos atau tukang pos. Dengan risiko seperti upah seorang tukang pos tak dapat dibayar dengan nominal uang dibandingkan dengan perjuangan untuk menemukan alamat surat yang akan dikirim.
Adalah Djajang Hifdimunir, salah satu petugas pengantar surat. Dia mengaku tak pernah bermimpi memiliki profesi itu. Seperti kebanyakan orang, dahulu, dia punya cita-cita tinggi yaitu menjadi seorang tentara. Di samping memiliki kesan tegas, profesi tentara juga dapat mengharumkan nama bangsa. Begitu pikirnya.
“Rasanya orang nggak pernah cita-cita sebagai tukang pos. Namanya rezeki, ya tergantung yang di atas (Tuhan) saja,” ucapnya saat berbincang dengan okezone, belum lama ini.
Suka duka diakuinya dialami selama menjalani pekerjaan sebagai Pak Pos, termasuk upah yang dirasa minim. Namun dia enggan menyebutkan berapa penghasilan yang didapatnya.
“Saya ingin cari suasana lain juga. Penghasilan antara dulu dan sekarang, dulu guru juga kurang penghasilan. Walaupun dulu nggak jauh beda, guru sekarang lebih perhatian. Ya, cukuplah sekarang,” singkat ayah dua anak ini.
Djajang bertutur, dahulu dirinya adalah seorang guru yang mengajar di sekolah Madrasah.
“Ngelamar, Alhamdulillah diterima. Tiga tahun saya mengajar. Lalu sejak tahun 1992, sampai sekarang menjadi tukang pos. Suka dukanya, buat saya mengasyikkan. Tugas di luar bisa nambah pergaulan dan kepuasan batin sendiri, ketika kita mengantar surat tepat waktu mereka juga menerima surat dengan senang dan ucapan terima kasih. Kebanggaan tersendiri,” paparnya.
Untuk profesinya ini, Djajang mengaku mendapat dukungan dari keluarga. Karena keluarga percaya bahwa apa yang dikerjakannya adalah suatu hal yang mulia.
“Sudah anak dua, SMA kelas 2 dan SMP kelas 1. Keluarga baik saja dan bangga, orang bangga bisa masuk sebagai pegawai. Kita memang ada komunikasi antara pengantar surat dan pengguna jasa. Kami dekat. Sampai kalau ada acara nikahan dari pelanggan mengundang kita juga,” imbuhnya.
Di samping suka memang ada duka yang dialaminya, seperti alamat tidak ditemukan dan makian pelanggan akibat surat terlambat datang. “Kalau alamat kantor, kalau orang nggak dikenal kita kembalikan. Tapi jarang. Terus juga pernah ada yang hilang, simpan di motor, di parkiran. Alhamdulillah tidak ada komplain,” sambung Djajang.
Bahkan dia pernah menjadi sasaran “kemarahan” binatang peliharaan dari pelanggan yang tepat berada di garis depan. “Iya pernah digonggong anjing. Biasa kalau ada anjing kita bel saja, anjingnya tinggi lagi. Tapi nggak jadi kendala itu biasa saja. Kalau kaget sih memang kaget ya manusiawilah,” ucapnya sambil tertawa.
Walaupun suka duka kerap dirasa, Djajang tetap menjaga profesionalitasnya saat bekerja. Dia juga berusaha sebaik mungkin saat menjalankan tugas.
“Memang sekarang ada persaingan usaha, semaksimal mungkin sesuai profesi masing- masing bagi pengguna jasa,” tutupnya. (lsi)
(Dadan Muhammad Ramdan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.