PASURUAN - Jika warga lereng Merapi langsung diungsikan setelah gunung berstatus awas, tapi tidak demikian dengan Suku Tengger yang merupakan warga asli Gunung Bromo. Mereka tetap beraktifitas meski gunung “lautan pasir” ini mulai erupsi.
Saat aktifitas Gunung Bromo terus menggeliat dan mengeluarkan abu vulkanik, warga suku Tengger malah mendaki hingga ke bibir kawah. Sebelum mendaki, warga yang dipimpin ketua adat menggelar ritual dengan membacakan doa-doa untuk keselamatan.
Ratusan warga ini berkumpul di Pendopo Agung Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari. Warga Tengger yang terdiri dari anak-anak, laki-laki dan perempuan ini lantas berbondong-bondong menuju Pura yang berada di lautan pasir Gunung Bromo.
Mereka membawa sebagian hasil panen seperti palawija dan ternak untuk dipersembahkan kepada 'penunggu Gunung Bromo'. Labuhan sesaji ini dilakukan layaknya pada peringatan Yadna Kasada.
Kepulan abu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Bromo tidak menjadikan warga kawatir. Warga juga mengaku tidak mencium bau menyengat apalagi menghirup abu vulkanik yang menyesakkan dada. Semua dilakukan warga seperti layaknya gunung dalam kondisi normal.
Menurut Didit, salah seorang tokoh adat Tengger, ritual ini dilakukan setelah ketua adat mendapat pesan spiritual atau wangsit dari penunggu Gunung Bromo. Intinya, agar warga Tengger segera memberikan sesaji untuk menghindari letusan Gunung Bromo yang lebih besar.
"Ritual ini dilakukan agar seluruh warga Tengger selamat. Gunung Bromo yang telah memberikan kesejahteraan masyarakat tidak akan meletus seperti yang dikawatirkan banyak orang," ujar Didit.
Saat ritual sesaji dilaksanakan, seorang warga tiba-tiba kerasukan roh yang dipercaya berasal dari Nyi Roro Anteng, leluhur suku Tengger. Masuknya roh dari istri Joko Seger ini juga dipercaya sebagai komunikasi atau 'penghubung' warga Tengger dengan leluhurnya.
Perjalanan ritual warga Tengger sempat mendapat larangan dari aparat keamanan. Sebab warga Tengger sudah berada di zona larangan yakni radius 3 Km dari pusat Bromo ini diminta untuk tidak melanjutkan ke bibir kawah.
Namun, aparat mengalah pun dan membiarkan warga melanjutkan ritual labuh sesaji di kawah Gunung Bromo.
"Kami sangat menghormati keputusan pemerintah yang meminta agar warga waspada karena aktifitas Bromo meningkat. Warga kami memiliki keyakinan, bahwa Bromo sedang membangun kawahnya. Kami percaya, abu vulkanik ini juga akan menyejahterahkan warga suku Tengger," kata Sukardji, Kepala Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
(Dede Suryana)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.