TUNIS - Pengadilan di Tunisia sepakat untuk memulangkan mantan Perdana Menteri (PM) Libya Al Baghdadi al Mahmoudi yang berada di Tunisia agar kembali ke tanah airnya.
Mahmoudi ditangkap oleh aparat keamanan Tunisia pada 22 September lalu dan dimasukan ke dalam penjara karena tidak memiliki visa. Mahmoudi merupakan salah seorang loyalis Khadafi yang melarikan diri dari Libya saat pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) masuk ke Tripoli.
Ekstradisi terhadap Mahmoudi merupakan desakan dari para aktivis HAM dan negara-negara lain. Meski demikian, Amnesty International melayangkan surat ke Pemerintah Tunisia agar tidak mengekstradisi Mahmoudi.
Amnesty International menilai, Pemulangan Mahmoudi ke Libya akan menimbulkan adanya pelanggaran HAM karena mantan PM Libya itu bisa saja mengalami penyiksaan dan eksekusi yang dilakukan oleh NTC. Demikian seperti diberitakan New York Times, Rabu (9/11/2011).
NTC sebelumnya sudah berjanji, siapa pun loyalis Khadafi yang bersalah akan diadili dengan cara yang baik. Pembunuh Khadafi bahkan akan diadili oleh Pemerintah Libya. Namun, tidak ada yang dapat menjamin akan keselamatan mantan PM Libya itu, mengingat para pasukan revolusi NTC juga masih memegang senjatanya.
Belakangan ini, tersiar kabar yang menyebutkan, mantan PM Libya itu tengah berada dalam tekanan yang cukup berat.
Mahmoudi merasa, dirinya merupakan seorang yang mengetahui banyak rahasia dari rezim Khadafi, dirinya khawatir akan dipaksa untuk membuat kesaksian. Pria berusia 70 tahun itu tampak lemah karena menderita diabetes.
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.