BENGHAZI - Ketua Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya Mustafa Abdel Jalil mengatakan, mantan Perdana Menteri (PM) Libya Al Baghdadi al Mahmoudi akan menjalani proses pengadilan setelah diekstradisi.
"Pertama-tama, kami akan memberikan tempat yang aman baginya, kami pun menjamin sebuah pengadilan yang adil," ujar Mustafa, seperti dikutip AFP, Jumat (11/11/2011).
Mahmoudi saat ini berada di Tunisia, Pemerintah Libya pun meminta Tunisia agar mengekstradisi Mahmoudi. Meski demikian, ekstradisi merupakan satu hal yang ditentang oleh Amnesty International. Pihak Amnesty International berpikir, pengekstradisian Mahmoudi hanya akan menambah pelanggaran HAM di Libya.
"Bila Mahmoudi kembali ke Libya, dirinya akan mengalami penyiksaan, pengadilan yang tak adil, dan hukuman mati di luar proses hukum," ujar juru bicara Amnesty International James Lynch.
Saat pengadilan di Tunisia memutuskan untuk mengekstradisi Mahmoudi, para warga di Libya dikabarkan berdemonstrasi dan menuntut pemulangan Mahmoudi. Mereka menyebut Mahmoudi sebagai "diktator ketiga di Libya." Warga Libya juga mendesak penangkapan putra Moammar Khadafi Saif al Islam.
Mahmoudi yang merupakan PM Libya di rezim Khadafi adalah seorang yang mengetahui banyak rahasia di Libya, hal inilah membuatnya khawatir bila pulang ke Libya. Mahmoudi bisa saja dipaksa untuk membuat kesaksian di pengadilan. Pria berusia 70 tahun itu tampak lemah karena menderita diabetes.
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.