JAKARTA - Pemanfaatan traktor untuk mengolah lahan sawah sudah biasa. Bagaimana dengan pemanfaatan mesin untuk menanami sawah?
Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) unit Ciparay Universitas Padjadjaran (Unpad) membuktikan, proses penanaman bibit padi menggunakan mesin penanam padi (rice planter) lebih efisien dalam segi waktu.
Jika biasanya waktu tanam manual bibit padi membutuhkan sekira 40 hari orang kerja (HOK), maka dengan rice planter hanya butuh 4-6 jam per hektar.
Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad Benny Joy dan Pembantu Dekan Bidang Akademik Unpad Meddy Rachmadi berkesempatan melakukan penanaman perdana menggunakan mesin sumbangan PT Vitafarm, China tersebut. Menurut Benny, penggunaan mesin dalam pertanian menjadi kesempatan untuk mengembangkan teknologi.
"Mudah-mudahan dengan alat ini kita bisa lebih maju lagi di bidang teknologi penanaman padi,” ujar Benny seperti disitat dari situs Unpad, Senin (5/12/2011).
Ketua SPLPP Unpad Tualar Simarmata menjelaskan, penggunaan rice planter dapat mengefisienkan biaya dan kecepatan penanaman padi. Mesin berbahan bakar solar yang dapat dikemudikan ini juga menjadi solusi atas makin berkurangnya tenaga penanam terlatih.
"Ke depannya, Faperta akan menggandeng Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad untuk sama-sama mengembangkan dan memodifikasi alat ini sesuai dengan yang dibutuhkan. Saya berpikir, nanti alat ini bisa dipakai juga untuk mengolah tanah,” kata Tualar.
SPLPP unit Ciparay Unpad saat ini telah memiliki dua unit rice planter. Pemanfaatan rice planter dalam pertanian sendiri merupakan bentuk intensifikasi yang akan meningkatkan produktivitas dan hasil pertanian.
(Rifa Nadia Nurfuadah)